Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian ialah pendataan petani melalui mekanisme Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Pendataan yang akurat menjadi bagian penting dalam pengusulan kebutuhan pupuk bersubsidi agar distribusinya lebih tepat sasaran.
Menurut dia, penyuluh perlu memastikan petani yang memenuhi persyaratan terdata dengan baik sehingga kebutuhan kelompok tani dapat diakomodasi melalui mekanisme yang berlaku. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sigi, Moh. Afit Lamakarate, juga menekankan pentingnya pembenahan data dan perencanaan kebutuhan pertanian secara terpadu.
Ia meminta penyuluh menyusun daftar kebutuhan kelompok tani secara terperinci, meliputi alat dan mesin pertanian, benih, pupuk, serta sarana produksi lainnya. Setiap usulan harus tercatat dan dievaluasi secara berkala untuk mengetahui kebutuhan yang telah terpenuhi maupun yang masih memerlukan tindak lanjut.
Afit mengingatkan agar penyuluh tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, pertemuan, penanaman, dan panen. Seluruh kegiatan tersebut harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi dan produktivitas pertanian serta pencapaian target luas tambah tanam (LTT).
Untuk itu, penyuluh dituntut aktif berinteraksi dengan anggota kelompok tani, memahami kondisi wilayah kerja, memantau lokasi lahan, serta mengidentifikasi persoalan yang dihadapi petani. Informasi tersebut diperlukan agar program pendampingan dan bantuan yang diusulkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Afit turut menyoroti pentingnya sinkronisasi data lahan baku sawah (LBS) antara kondisi aktual dan data yang digunakan dalam perencanaan maupun pelaporan. Ketepatan data dinilai menjadi salah satu dasar untuk menetapkan target pertanian secara realistis dan mengukur capaian program.
Di sisi lain, keterbatasan air akibat musim kering masih menjadi tantangan bagi pertanian di sejumlah wilayah Sigi. Penurunan debit air, termasuk pada sistem irigasi Gumbasa, berdampak terhadap kemampuan petani mengolah dan menanami lahan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas padi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi budidaya. Ketersediaan air, dukungan sarana produksi, pendampingan penyuluh, serta akurasi data harus diperkuat secara bersamaan agar peningkatan produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Panen demplot PM-AAS tersebut turut dihadiri perwakilan Pupuk Kaltim Indonesia, CWS Kabupaten Sigi, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta mahasiswa magang Universitas Tadulako Palu dari jurusan pertanian.
Melalui kegiatan tersebut, hasil demplot diharapkan menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran untuk menentukan pola budidaya yang sesuai dengan karakteristik lahan dan kondisi sumber daya air. Hasil pengukuran panen yang terverifikasi juga diperlukan sebagai dasar untuk menilai efektivitas metode yang diterapkan.
Kolaborasi pemerintah daerah, penyuluh, perusahaan pupuk, dan kelompok tani diharapkan mampu memperkuat produktivitas padi sekaligus mendukung upaya mewujudkan swasembada pangan nasional dan keberlanjutan usaha tani di Kabupaten Sigi. FRY