Karena itu, wali kota meminta agar upaya membangun Kota Palu yang ramah disabilitas tidak hanya dilakukan melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui kepedulian dan dukungan dari keluarga serta seluruh elemen masyarakat.
Kepada keluarga penyandang disabilitas, wali kota berpesan agar tidak memutus hubungan dengan pemerintah.
Menurut wali kota, pemerintah maupun masyarakat sama-sama memiliki keterbatasan dan dapat lalai atau lupa, sehingga diperlukan komunikasi serta saling mengingatkan. “Jangan putus hubungan dengan pemerintah. Kita tempatnya lalai dan lupa. Kita saling mengingatkan dan menguatkan. Jangan pernah pupus harapan di antara kita,” kata wali kota.
Wali Kota Hadianto berharap perhatian terhadap penyandang disabilitas dapat diberikan secara optimal, terutama dalam mendorong mereka agar mampu hidup secara mandiri sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
“Apa yang bisa kita berikan, berikan, agar mereka bisa mandiri. Karena persepsi kemandirian mereka itu berbeda,” tutur wali kota.
Wali kota menekankan pentingnya membangun hubungan yang kuat antara pemerintah, keluarga, organisasi penyandang disabilitas, dan masyarakat agar berbagai kebutuhan penyandang disabilitas dapat direspons secara bersama-sama.
“Pokoknya saling menguatkan. Jadikan pemerintah ini jadi komiu punya rumah. Saya pastikan saya tidak akan jauh dari komiu. Mumpung jabatan saya masih wali kota, manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” pungkas wali kota.
Penerimaan Anugerah Prakarsa Inklusi tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Palu untuk terus memperkuat komitmen dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, memastikan akses yang setara, serta menghadirkan pelayanan publik yang semakin responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. ABS