Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena durian Sulawesi Tengah kini tidak hanya mengandalkan pasar lokal. Komoditas itu telah memiliki peluang di pasar internasional, sehingga gangguan produksi berpotensi memengaruhi keberlanjutan ekspor sekaligus pendapatan petani.
Mendengar aspirasi tersebut, Mentan Amran langsung memberikan respons. Ia memastikan pemerintah tidak akan membiarkan persoalan penyakit tanaman tersebut berlarut-larut. Amran memerintahkan jajaran Ditjen Hortikultura segera mengirimkan tim ahli proteksi tanaman terbaik ke Sulawesi Tengah untuk mengidentifikasi sekaligus mencari solusi terhadap penyakit yang menyerang tanaman durian.
Bahkan, pemerintah membuka kemungkinan mendatangkan pakar dari luar negeri apabila keahlian yang dibutuhkan tidak tersedia di dalam negeri. “Saya perintahkan Direktur Wilayah dan jajaran Ditjen Hortikultura untuk segera turun ke lapangan dan membawa ahli-ahli proteksi pertanian terbaik di Indonesia ke Sulawesi Tengah. Kita harus amankan produksi dan keberlanjutan ekspor durian kita. Kalau perlu, ambil ahli dari luar negeri. Semuanya negara yang biayai,” tegas Amran.
Respons cepat pemerintah pusat tersebut memberi angin segar bagi petani durian di Sulawesi Tengah. Kehadiran tim ahli diharapkan tidak hanya mampu mengatasi serangan penyakit bangkalan, tetapi juga menemukan langkah pencegahan agar persoalan serupa tidak kembali mengancam produksi.
Bagi Sulawesi Tengah, penyelamatan tanaman durian bukan sekadar menjaga hasil panen. Di balik komoditas tersebut terdapat harapan petani, peluang ekonomi daerah, dan potensi ekspor yang terus berkembang. AJI