Selain itu, pemanfaatan energi surya ini diperkirakan mampu menekan konsumsi hingga puluhan ribu ton batu bara setiap tahun, juga mengurangi emisi nitrogen oksida dan sulfur dioksida. Inisiatif ini mendukung peningkatan kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) perusahaan, sebagai salah satu indikator penting daya saing industri di tingkat global.
Ke depan, pengembangan PLTS di kawasan IMIP diharapkan dapat terus ditingkatkan seiring bertambahnya kapasitas dan kemajuan teknologi penyimpanan energi. Dengan porsi energi terbarukan yang semakin besar, struktur ini diharapkan berangsur beralih menuju sistem yang lebih rendah karbon.
Untuk diketahui, sebelumnya juga di kawasan IMIP sudah ada beberapa tenant yang menerapkan teknologi hijau, antara lain PLTS kanal Fatufia dengan kapasitas Fatufia kurang lebih 1,27 MegaWatt peak (MWp), dengan spesifikasi output memiliki tegangan 4 phase 300 Kilowatt dan jumlah panel 2.190 unit. Kedua, PLTS Atap PT DSI memiliki kapasitas terpasang mencapai 65,89 MWp.
Sebanyak 119.800 panel surya silikon monokristalin berdaya efisiensi tinggi dipasang pada area atap seluas sekitar 396.700 meter persegi. Ketiga, PT QMB New Energy Materials sedang merencanakan membangun PLTS dengan kapasitas 6 MWp.
Selain itu, di kawasan IMIP dikembangkan juga PLTU Co-Generation, antara lain dikelola oleh PT DSI dengan kapasitas 65 MWp dan PT HYNC dengan kapasitas 50 MWp. “PLTS bukan sekadar pembangkit listrik alternatif, tetapi instrumen strategis transisi energi modern. Bagi industri, PLTS penting bukan hanya karena “hijau”, tetapi karena energi bersih mulai menjadi syarat ekonomi masa depan. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal dalam efisiensi, investasi, dan akses pasar internasional,” tegas Yulius Susanto.*WAN