Unggul dua gol, Berlian menurunkan tempo. Mereka bermain lebih sabar, mengatur ritme, dan menutup ruang. Upaya AKL 88 untuk bangkit terus kandas di kaki-kaki disiplin para pemain belakang Berlian.
Hingga peluit panjang berbunyi, skor 2-0 tak berubah. Berlian Tomoli pun memastikan diri berdiri di podium ketiga, sekaligus membawa pulang bonus Rp10 juta.
Bagi Kasmudin, kemenangan ini bukan sekadar hasil, melainkan buah dari kerja kolektif tim yang seluruhnya diisi pemain lokal Parigi Moutong. “Ini hasil dari kedisiplinan dan kekompakan. Kami bangga bisa bersaing dengan tim-tim tangguh asal Kota Palu dan kabupaten lainnya,” ujarnya.
Di balik kemenangan itu, ada pula dukungan yang tak terlihat di lapangan. Kehadiran Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase saat semifinal, serta Wakil Bupati Abdul Sahid di laga perebutan tempat ketiga, menjadi suntikan motivasi tersendiri bagi tim.
Sore itu, Berlian Tomoli tak sekadar menang. Mereka menutup perjalanan dengan kilau—membuktikan bahwa semangat lokal, jika dirawat dengan disiplin, mampu bersinar di panggung kompetisi tertinggi sepak bola Sulawesi Tengah. AJI
