Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Parigi Moutong, Enang Pandake, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi ASN untuk menyumbang durian secara individu. “Tidak ada penekanan seperti yang berkembang. Misalnya satu ASN satu durian, itu tidak benar. Yang kami sampaikan hanya partisipasi,” ujarnya.
Menurutnya, kontribusi sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing pimpinan OPD, tanpa target jumlah tertentu. Ia juga mengakui bahwa wacana kontribusi per ASN sempat muncul dalam pembahasan awal, namun tidak pernah ditetapkan sebagai kebijakan resmi.
Lebih jauh, Enang menjelaskan bahwa konsep “gundukan durian” bukan sekadar atraksi visual, melainkan bagian dari upaya mengangkat potensi durian lokal. Buah-buah yang terkumpul nantinya akan dinikmati bersama oleh masyarakat dan tamu undangan. “Ini untuk konsumsi bersama, bukan untuk kepentingan tertentu,” jelasnya.
Tak hanya OPD, sejumlah kecamatan juga telah menyatakan kesiapan berpartisipasi. Hingga kini, sedikitnya delapan kecamatan siap ambil bagian, tanpa beban target jumlah. Komposisi yang dianjurkan pun lebih pada keseimbangan: sekitar 70 persen durian dan 30 persen buah lokal lainnya.
Di tengah polemik yang mengemuka, satu hal menjadi terang: antara niat mempromosikan potensi daerah dan persepsi di lapangan, selalu ada ruang yang perlu dijembatani. Dan disitulah, komunikasi yang jernih menjadi kunci agar semangat gotong royong tidak berubah menjadi beban. AJI