SULTENG RAYA – Di hadapan Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara,  Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, melontarkan sebuah pujian yang tak biasa. Ia menyebut Ketua Kadin Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, sebagai “pejuang durian”—sebuah pengakuan yang lahir dari konsistensi dan kerja panjang dalam mengangkat komoditas lokal ke panggung global.

Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi seremoni. Dibaliknya, tersimpan ambisi besar: menjadikan Sulawesi Tengah sebagai kekuatan utama durian dunia.

“Ketua KADIN Parigi Moutong, Ibu Faradiba Zaenong, adalah teman partner saya dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk mendukung Sulawesi Tengah menuju raja durian dunia. Pejuangnya durian ini Pak Menteri,” ujar Anwar Hafid, menegaskan arah kebijakan yang kini tengah dibangun pada kegiatan pelepasan ekspor durian kawasan industri PT Duco Food Indonesia Kelurahan Baiya, Kota Palu baru-baru ini.

Bagi sang gubernur, dedikasi Faradiba bukan lagi cerita baru. Ia bahkan menggambarkan keseharian Ketua Kadin Parigi Moutong itu yang nyaris sepenuhnya dihabiskan untuk mengurus durian—dari hulu hingga hilir.

“Setiap hari urus durian. Telepon saya durian, tidak ada dia urus yang lain Pak Menteri. Sampai kerjasama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dengan Provinsi Sicuan, Tiongkok khusus dalam pengembangan pertanian juga berkat peran Ibu Faradiba,” katanya, setengah berkelakar namun sarat makna.