Momentum itu sekaligus menjadi panggung bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk mengumumkan langkah strategis berikutnya: membuka jalur kerja sama internasional. Dalam waktu dekat, Sulteng membidik kemitraan dengan Provinsi Hainan dan Sichuan di Tiongkok, sebagai pintu masuk memperluas pasar ekspor.
Langkah ini bukan tanpa perhitungan. Durian, yang selama ini identik dengan konsumsi domestik, kini diposisikan sebagai komoditas unggulan berorientasi global—dengan Sulteng sebagai salah satu episentrumnya.
Dukungan juga datang dari kalangan industri. Sekretaris Jenderal APDURIN, Aditya Pradewo, menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pemain utama dalam industri durian dunia. Namun, menurutnya, kekuatan itu perlu dikemas dalam satu identitas yang kuat. “Hari ini kita tidak hanya menjual durian, tapi membangun identitas nasional,” ujarnya.
Dari gagasan itulah lahir konsep “Volcano Durian Indonesia”—sebuah branding yang mengangkat keunikan geografis Indonesia sebagai negeri cincin api. Tanah vulkanik yang kaya mineral diyakini menjadi rahasia di balik cita rasa durian Nusantara yang khas: kuat, kompleks, dan alami. “Ini bukan sekadar durian. Ini adalah produk alam yang lahir dari tanah vulkanik Indonesia, disempurnakan oleh alam itu sendiri. Inilah identitas kita,” tegasnya.
Dengan strategi tersebut, durian tak lagi sekadar buah musiman, melainkan simbol kekuatan alam dan potensi ekonomi yang siap bersaing di pasar global. Dari kebun-kebun di Sulawesi Tengah, ambisi itu kini perlahan disusun—menuju satu tujuan: takhta durian dunia. AJI