(Ikhtiar OJK Sulteng Mendekatkan Akses Keuangan untuk Memperkuat Ekosistem Petani Kakao Pandayora)


Sejak awal, Hervin Palewa tampak antusias menyimak materi tentang manfaat kepesertaan Bukan Penerima Upah (BPU) yang dibawakan oleh Wisnu Yudistira dari BPJS Ketenagakerjaan Cabang Poso.

โ€ŽRAHMAT KURNIAWAN / SULTENG RAYA

โ€Žโ€ŽIbu rumah tangga berusia 38 tahun itu duduk tenang. Kedua tangannya memegang brosur pembiayaan ultra mikro (UMi) yang sebelumnya ia simak dalam rangkaian kegiatan Penandatanganan MoU dan Business Matching dalam Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) Petani Kakao Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso โ€“ yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulteng, Selasa (13/10/2026).

โ€ŽDari kejauhan, terdengar samar suara Hervin bertanya kepada kawannya yang juga ibu rumah tangga sama seperti dia โ€“ yang sejak awal sudah duduk bersebelahan dengannya. “Ternyata tidak pakai-pakai kelas seperti BPJS Kesehatan ya?,” tanyanya.

โ€ŽLantaran penasaran, di penghujung materi, Hervin mengacungkan tangan untuk bertanya. Ia seolah ingin lebih mendapatkan kepastian bahwa BPU itu jaminan sosial yang tidak sama dengan yang ada di sektor kesehatan. “Kalau mau masuk jadi peserta, bagaimana cara daftar? saya juga mau tanya apakah ini sama dengan iuran yang biasa kami bayar pada BPJS Kesehatan?,” tanya Hervin.

โ€ŽWisnu Yudistira lantas menyambar pertanyaan Hervin dengan membuka kembali slide materi BPU. Di layar, muncul kembali sekira tiga atau empat poin manfaat kepesertaan BPU. “Jadi tidak sama ya bu dengan BPJS Kesehatan, petani kakao yang mengelola kebunnya sendiri dapat mendaftar sebagai peserta BPU agar memperoleh perlindungan terhadap risiko kecelakaan kerja dan risiko sosial lainnya. Ini cocok untuk petani kakao,” ucap Yudistira.

Wisnu menguraikan manfaat yang bisa diterima peserta, mulai dari biaya perawatan medis akibat kecelakaan kerja sesuai ketentuan, santunan selama masa pemulihan apabila peserta tidak dapat bekerja, hingga santunan jika kecelakaan mengakibatkan cacat tetap.

Yudistira begitu cakap menguraikan manfaat BPU. Sebab baginya, sesi tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan perlindungan sosial kepada petani yang selama ini bekerja mandiri.

โ€œPekerjaan di kebun memiliki risiko, sementara keberlangsungan pendapatan keluarga sangat bergantung pada kemampuan petani untuk terus bekerja,โ€ kata Wisnu.

โ€ŽDi akhir materi, Wisnu memberikan kontaknya kepada Hervin Palewa dan petani yang hadir. Ia berujar untuk tak sungkan menghubunginya jika ada petani yang ingin mendaftarkan kepesertaan BPU di BPJS Ketenagakerjaan Cabang Poso.

“Jangan sungkan ya, pasti kami bantu ikut jadi peserta. Di Kabupaten Poso, sudah ada 2.252 kasus penyaluran santunan kecelakaan kerja dengan total santunan puluhan miliar. BPU sangat bermanfaat untuk petani,” ucap Yudistira.

Pertanyaan Hervin mungkin terlihat sederhana. Namun, dari sana terlihat satu persoalan yang lebih besar yakni akses terhadap layanan keuangan dan perlindungan sosial tidak cukup hanya tersedia. Petani juga perlu mengenal, memahami, dan mengetahui bagaimana memanfaatkannya.

โ€Žโ€ŽMengembangkan Potensi, Mendampingi Sampai Jadi

โ€Žโ€ŽSudah setahun belakangan, orang-orang OJK Sulteng rela bolak-balik Palu-Pandayora yang jaraknya 360 kilometer via jalur darat.

Sudah setahun belakangan pula mereka melihat suasana kebun warga di pinggir jalanan desa, lekat dengan tanaman tumpang sari โ€“ atau bisa juga dibilang agroforestry โ€“ antara kakao dan durian montong. Sebuah pemandangan yang memantik keinginan untuk “menata” petani dengan mendekatkan akses industri jasa keuangan supaya ekosistem ini berkembang; petani punya pembiayaan, punya jaminan sosial, bahkan punya investasi.

โ€ŽBersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kabupaten Poso, OJK Sulteng memilih Desa Pandayora sebagai sasaran mengimplementasikan program PED karena membaca potensi dan keinginan kuat petani untuk meningkatkan kapasitasnya โ€“ memperoleh literasi dan akses industri jasa keuangan.

โ€ŽEkosistem ekonomi petani kakao di sini sejatinya telah memiliki pondasi. Namun demikian, Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra mengatakan, ekosistemnya masih terbuka lebar dikembangkan dengan lebih menggalakkan akses layanan keuangan yang massif ke mata dan telinga petani.

Adalah Koperasi Karya Bersama (KKB) di Pamona Selatan yang lebih dahulu hadir beberapa tahun belakangan sebagai off taker hasil bumi petani kakao.

Dua tahun terakhir ini, KKB menjalin kemitraan dengan salah satu perusahaan coklat terbesar di Prancis, Valrhona. Mereka meneken kesepakatan ekspor kakao fermentasi sebanyak 12,5 ton (2026) setelah sebelumnya sukses mengekspor dua ton pada 2025, pada saat itu nilai ekspornya mencapai Rp 400 juta.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa petani Pandayora memiliki peluang untuk terhubung dengan pasar yang lebih luas melalui kelembagaan koperasi. Tantangannya adalah bagaimana peluang itu dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas produksi dan penguatan ekonomi.

โ€œPenggembangan ekonomi daerah di Pandayora masih memerlukan polesan supaya lebih terukur, terstruktur, dan teratur,โ€ ucap Bonny.

Jika berjalan baik, Bonny bilang, ekosistem ekonomi yang telah terbangun dari hulu ke hilir di Pandayora ini bakal ditawarkan menjadi percontohan bagi daerah lain di Sulteng sehingga program-program TPAKD kabupaten dan kota di Sulteng dapat berjalan mengikuti aksi TPAKD Kabupaten Poso ini.

โ€Ž”OJK udah berapa kali kesini, edukasi lagi, edukasi lagi. Tapi ini supaya petani lebih paham, bahwa banyak kemudahan ketika akses keuangan hadir ke desa. Kami hadirkan PNM, BPJS Ketenagakerjaan, Pegadaian โ€“ agar petani bisa tahu kalau industri keuangan itu bukan cuma bank. Ada banyak, beserta dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan,โ€ ucap dia.

Bonny menegaskan bahwa kehadiran OJK tidak dimaksudkan sebagai kunjungan sesaat, atau hanya setahun belakangan. Ada pendampingan berkesinambungan ke depan. โ€œOJK datang di sini bukan cuma sekali datang terus lupa, tidak. Kita akan dampingi. Petani tidak sendiri, kita semua ada di sini. Tujuannya untuk kemakmuran bersama dalam ekosistem ini,โ€ tambah Bonny.

Senada dengan itu, Ketua Koperasi Karya Bersama, Bernart Ranonto lantas memandang keterlibatan OJK secara konsisten dalam menggalakkan literasi dan inklusi keuangan bagi petani di Pamona Selatan sebagai aksi nyata yang akan menuntun petani lebih terarah dalam menata dan membangun ekonomi keluarga, dari hasil produksi kakaonya.

โ€œMelalui kerjasama ini kami berharap semakin banyak petani yang dapat mengakses jaminan sosial, layanan kredit keuangan sebagai penunjang pengembangan usaha, dan menata keuangan dengan lebih terarah. Kami menyerap hasil panen, OJK kemudian membuat petani lebih dewasa mengelola keuangan,โ€ ungkap Bernart.

Di Pandayora, keberadaan koperasi dan pasar ekspor merupakan modal penting. Kini upaya berikutnya yakni melengkapi fondasi tersebut dengan akses keuangan beragam yang sesuai dengan kebutuhan petani secara lebih optimal.

Menebar Inklusi, Merawat Sampai Mengerti

Jauh sebelum kesepakatan ekspor ini terjadi, TPAKD Poso bersama OJK telah aktif berdiskusi dan menemukan persoalan yang lebih mendasar. OJK mencermati perkembangan nilai ekspor kakao yang meningkat, sementara dari sisi kuantitas belum terlihat perubahan sepadan.

Wakil Bupati Poso, Soeharto Kandar melihat masalah ini sebagai salah satu pekerjaan rumah pengembangan kakao di daerahnya. Menurutnya, petani masih menghadapi hambatan meningkatkan produksi, meskipun harga kakao sedang tinggi.

Saat ini, harga kakao sedang melejit berada di kisaran Rp90.000 per kilogram per Oktober 2026. โ€œMungkin karena faktor permodalan,โ€ ucap Soeharto.

Benar saja, setali tiga uang dengan informasi itu, salah seorang petani dari Kelompok Tani Mitra Tani III Desa Pandayora, Sabaruddin (37) menyebut mereka mengharapkan harga yang bagus.

Selama ini, upaya untuk meningkatkan produksi atau menambah jumlah tanaman kakao belum massif. โ€œKita harapkan itu harga. Kalau harga meningkat, ya sejahtera kita,โ€ katanya.

Hal inilah yang mendasari OJK Sulteng menaruh perhatian lebih kepada petani kakao Desa Pandayora.

Bonny menilai, jika akses keuangan hadir di tengah-tengah petani, mungkin saja persepsi mereka akan berubah.

Mendapatkan pembiayaan berarti membuka jalan meningkatkan modal dan perluasan lahan tanam. Mengakses jaminan sosial berarti memberi rasa aman untuk terus produktif. Dan, memberi pengetahuan investasi berarti membuka jalan petani untuk lebih tenang terhadap likuiditasnya.

โ€œBusiness matching-nya di sini udah jalan โ€“ koperasi dengan petani, koperasi dengan offtaker Valrhona. Nah, kita ingin menjalankan satu item lagi yakni petani dan industri jasa keuangan di mana kebutuhan modal kerja, jaminan sosial, instrumen investasi bisa dipenuhi,โ€ kata Bonny.

Upaya memperluas akses pembiayaan bagi petani bukan tanpa pijakan. Data OJK Sulteng mencatat, sepanjang Oktober 2025 hingga Agustus 2026, sebanyak 655 debitur telah mengakses kredit sektor pertanian melalui BRI Poso dengan total plafon kredit sebesar Rp 38,6 miliar.

Data tersebut memperlihatkan adanya akses pembiayaan yang telah dimanfaatkan oleh ratusan debitur di Kabupaten Poso. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan akses tersebut dapat menjangkau lebih banyak petani sesuai kebutuhan dan kemampuan usahanya, termasuk petani kakao di Pandayora.

Di samping memperluas akses pembiayaan, OJK Sulteng juga ingin mendorong industri jasa keuangan melihat sektor pertanian sebagai bidang yang memiliki peluang untuk dikembangkan dengan tetap memperhitungkan risiko dan karakteristik usaha tani.

โ€œDengan adanya kami (OJK) di sini, akan memperkuat analisa mereka (IJK), bahwa masuk ke sektor pertanian memiliki banyak peluang untuk meningkatkan bisnis,โ€ ungkap Bonny.

Pekerjaan Rumah yang Belum Usai

Harga kakao yang tinggi menghadirkan harapan bagi petani kakao Pandayora.

Kemitraan koperasi dengan pasar ekspor juga membuka ruang bagi kakao lokal untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Namun, peluang pasar dan kesejahteraan petani tidak selalu bergerak dalam garis yang sama.

Harga kakao tinggi mungkin saja memperbesar pendapatan dari hasil panen yang tersedia. Tetapi, tanpa peningkatan produktivitas dan pengelolaan usaha pertanian yang baik, peluang itu belum cukup mendorong perubahan ekonomi keluarga secara berkelanjutan.

Kehadiran OJK Sulteng TPAKD Kabupaten Poso, Koperasi Karya Bersama, dan IJK menjadi bagian dari ikhtiar mendekatkan berbagai kebutuhan itu.

Pertanyaan Hervin tentang cara mendaftar BPU menjadi gambaran sederhana tentang titik awal perjalanan itu. Membuka akses keuangan adalah langkah awal. Memastikan akses dimanfaatkan merupakan pekerjaan yang jauh lebih panjang.

Menutup rangkaian kegiatan itu, Cocoa Sources in Valrhona, Sancie Castan membawakan sekira tiga merek sampel produk cokelat Valrhona hasil dari bahan baku kakao fermentasi yang diserap dari petani kakao Pandayora.

Ia memberikan tester itu kepada semua pemangku kepentingan yang hadir. โ€œRasanya segar, tapi tidak buat eneg. Harganya ini bisa sangat tinggi per bungkus,โ€ celetuk Soeharto Kandar usai mencicipi sampel produk itu. ***