Oleh: Ratih Dwi Istirahayu
(Mahasiswa Program Pascasarjana Program Studi Pendidikan Sains Untad)
Beberapa waktu terakhir, publik kembali disuguhi pemandangan yang sesungguhnya tidak asing: tumpukan sampah memenuhi pesisir Teluk Palu. Dalam satu kegiatan bersih pantai pada awal 2026, sekitar 100 ton sampah ditemukan hanya di sepanjang kurang lebih 1,2 kilometer garis pantai. Angka itu terdengar mencengangkan, tetapi sesungguhnya ia hanya memperlihatkan satu hal: kita sedang menghadapi krisis lingkungan yang sudah lama dibiarkan tumbuh perlahan.
Yang membuat situasi ini lebih ironis, persoalan sampah di Teluk Palu bukan lagi sekadar urusan pantai kotor atau pemandangan yang mengganggu wisatawan. Di balik tumpukan plastik yang terlihat di permukaan, ada ancaman yang jauh lebih serius dan nyaris tak kasat mata: mikroplastik.
Kita sering berpikir bahwa sampah yang dibuang akan hilang begitu saja. Padahal, sampah terutama plastik tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk, berpindah tempat, lalu kembali kepada manusia dalam cara yang lebih berbahaya.
Di sinilah Teluk Palu menjadi cermin yang memperlihatkan bagaimana manusia perlahan mencemari ruang hidupnya sendiri. Persoalan sampah di Teluk Palu sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil akumulasi panjang dari kebiasaan membuang sampah sembarangan, penggunaan plastik sekali pakai yang berlebihan, serta sistem pengelolaan sampah yang belum optimal.
Sebagian besar sampah laut berasal dari daratan. Sungai menjadi jalur utama yang membawa limbah rumah tangga, sampah pasar, hingga plastik perkotaan menuju laut. Dalam konteks Kota Palu, sungai-sungai yang bermuara langsung ke teluk berfungsi layaknya “ban berjalan” yang mengirim sampah setiap hari.
Masalahnya diperparah oleh kondisi geografis Teluk Palu yang relatif sempit dan semi-tertutup. Sampah yang masuk tidak mudah keluar kembali ke laut lepas. Arus laut dan angin justru mendorongnya terus menumpuk di kawasan pesisir. Akibatnya, Teluk Palu perlahan berubah menjadi ruang akumulasi sampah.
Yang paling mendominasi tentu saja plastik. Botol minuman, kantong plastik, kemasan makanan, hingga styrofoam menjadi pemandangan umum di sepanjang pesisir. Plastik dipilih karena murah, praktis, dan mudah digunakan. Namun, kemudahan itu menyimpan konsekuensi ekologis yang mahal.
Berbeda dengan sampah organik yang dapat terurai secara alami, plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk hancur. Bahkan, plastik sebenarnya tidak benar-benar terurai. Ia hanya pecah menjadi partikel-partikel kecil akibat paparan sinar matahari, gesekan ombak, dan proses kimia alami. Partikel kecil inilah yang dikenal sebagai mikroplastik.
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Ukurannya sangat kecil sehingga sulit dilihat mata. Namun, justru karena kecil itulah ia menjadi ancaman serius. Mikroplastik dapat tertelan plankton, ikan, kerang, dan berbagai biota laut lainnya. Ketika organisme kecil dimakan ikan yang lebih besar, partikel plastik ikut berpindah dalam rantai makanan. Pada akhirnya, manusia menjadi titik akhir dari rantai tersebut.
Dengan kata lain, plastik yang dibuang hari ini bisa saja kembali ke meja makan kita esok hari. Sejumlah penelitian global menunjukkan bahwa mikroplastik dapat membawa berbagai zat kimia berbahaya seperti Bisphenol A (BPA), phthalates, hingga logam berat. Zat-zat tersebut diketahui berpotensi mengganggu sistem hormon, memicu peradangan, dan meningkatkan risiko penyakit kronis dalam jangka panjang.