Yang mengkhawatirkan, ancaman mikroplastik bekerja secara perlahan dan nyaris tanpa disadari. Kita bisa melihat pantai yang dipenuhi sampah. Namun, kita tidak bisa melihat partikel mikroplastik yang sudah masuk ke tubuh ikan yang kita konsumsi.

Karena itu, persoalan sampah seharusnya tidak lagi dipahami hanya sebagai isu kebersihan lingkungan. Ini adalah persoalan kesehatan publik, persoalan keberlanjutan sumber daya laut, bahkan persoalan masa depan generasi mendatang.

Sayangnya, pendekatan penanganan sampah kita masih sering bersifat seremonial. Bersih pantai dilakukan ketika sampah sudah menumpuk. Kampanye lingkungan ramai saat peringatan hari tertentu. Setelah itu, semuanya kembali berjalan seperti biasa.

Kita terlalu sibuk membersihkan sampah di hilir, tetapi lupa menghentikan sumber masalahnya di hulu. Padahal, selama pola konsumsi masyarakat tidak berubah, penggunaan plastik sekali pakai terus meningkat, dan pengelolaan sampah masih lemah, maka laut akan terus menjadi tempat pelarian terakhir bagi limbah manusia.

Di titik ini, pemerintah daerah perlu mengambil langkah yang lebih serius dan sistematis. Penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan dan pembersihan pantai. Pengelolaan harus dimulai dari sumbernya: rumah tangga, pasar, sungai, dan kawasan perkotaan.

Sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Palu perlu dilengkapi sistem penahan sampah agar limbah tidak langsung masuk ke laut. Pengurangan plastik sekali pakai juga perlu didorong melalui regulasi yang nyata, bukan sekadar slogan kampanye.

Namun, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Persoalan sampah adalah persoalan kolektif. Masyarakat, sekolah, kampus, komunitas, hingga pelaku usaha memiliki tanggung jawab yang sama. Kesadaran bahwa sampah tidak pernah benar-benar hilang harus mulai dibangun sejak sekarang. Sebab, apa yang kita buang hari ini sesungguhnya sedang kita wariskan kepada masa depan.

Teluk Palu seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Laut bukan ruang kosong yang bisa terus menampung limbah tanpa batas. Ketika laut mulai dipenuhi sampah dan mikroplastik, sesungguhnya yang sedang tercemar bukan hanya air dan pesisir, tetapi juga kualitas hidup manusia sendiri.

Pada akhirnya, menjaga Teluk Palu bukan semata tentang membersihkan pantai. Ini tentang menjaga hubungan manusia dengan lingkungannya. Sebab ketika laut kehilangan kemampuannya untuk menopang kehidupan, manusia pun perlahan akan kehilangan masa depannya.***