SULTENG RAYA — Di tengah semangat ekspor yang menggeliat dalam agenda Berani Ekspor Raya Durian Sulteng Nambaso, Kamis (16/4/2026), sebuah langkah besar lahir dari tanah Palu. Bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan identitas: Indonesia kini punya wajah baru untuk durian di pasar global—Volcano Durian Indonesia.

Peluncuran branding nasional ini menjadi penanda babak baru perjalanan durian Indonesia. Sebuah upaya kolektif yang digagas bersama pemerintah dan Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (APDURIN), untuk menyatukan kekuatan yang selama ini tersebar dalam ratusan varietas lokal.

Di hadapan pelaku usaha dan pemangku kepentingan, Sekretaris Jenderal APDURIN, Aditya Pradewo, menyampaikan pesan yang lebih dari sekadar strategi dagang. Ia berbicara tentang identitas, tentang bagaimana Indonesia harus hadir dengan satu nama yang kuat di tengah kompetisi global.

Dari Palu, sebuah daerah yang kaya akan sumber daya alam, gagasan itu dipantik. Bukan hanya menjual buah, tetapi membangun citra. Sebab di balik rasa durian Indonesia, ada cerita panjang tentang tanah, alam, dan warisan.

Indonesia, kata Aditya, adalah bagian dari cincin api dunia—wilayah dengan tanah vulkanik yang subur dan kaya mineral. Dari situlah keunggulan itu lahir: rasa durian yang lebih kuat, kompleks, dan alami. “Ini bukan sekadar durian. Ini adalah durian yang lahir dari tanah vulkanik Indonesia. Lahir dari Ibu Pertiwi, disempurnakan oleh alam,” ujarnya, menegaskan filosofi di balik nama Volcano Durian Indonesia.