Kosakata ekologis tersebut kemudian dinilai melalui tiga indikator, yaitu familiaritas, frekuensi penggunaan, dan relevansinya untuk melihat penggunaannya dalam kondisi kehidupan sekarang, khususnya pada masyarakat Desa Toro.

Dia melanjutkan, penelitian diharapkan menghasilkan daftar dan klasifikasi leksikon sistem Katuvua, peta daya hidup per istilah lintas kelompok, penjelasan faktor perubahan penggunaan leksikon, serta model pengukuran daya hidup leksikon yang dapat digunakan untuk memahami dinamika relasi sosial ekologis di Desa Toro.

Salah satu pengalaman menarik penelitian ini adalah para periset mengenal rumah adat bantaya yang berada di samping rumah Rukmini yang juga dikenal sebagai Tinangata, ibu kampung. Di Bantaya para periset disambut dan berdiskusi dengan pengurus Lembaga Adat Toro mengenai penelitian yang dilakukan.

Di rumah adat ini juga menjadi tempat proses belajar bagi anak-anak Sekolah Adat yang dibina Rukmini. Pada kesempatan lain, para periset juga mengalami langsung dan menjadi bagian dari proses belajar di Sekolah Alam binaan Said Tolao yang berada di kaki bukit.

Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Sekolah Alam ciptaan Said Tolao, ada pesan nasionalisme dan ekologis sekaligus yang memancar dari momen itu. Jika Rukmini mengajarkan adat-istiadat bagi warga belajarnya, Said Tolao menyampaikan pendidikan alam tentang tumbuh-tumbuhan, sungai, dan pepohonan. Kedua momen tersebut menjadi bagian penting dalam penelitian ini.

Harini mengatakan, dari proses penelitian, hal mendasar yang ingin disampaikan bahwa leksikon ekologis pada sistem Katuvua menjadi penting karena memuat istilah-istilah yang terkait dengan wilayah hutan dan lahan berdasarkan fungsinya, misalnya Wana Ngkiki (puncak gunung), Wana (hutan primer), Pangale (hutan semi-primer), dan Oma (hutan belukar), Pongata (hutan bekas kebun) dan Balingkea (bekas kebun yang kesuburannya telah berkurang). Adanya pembagian zona tersebut memberikan pesan tentang keseimbangan dan keberlanjutan alam dan kehidupan manusia. AMR