Ada kecenderungan berbahaya dalam cara berpikir tersebut. Apa yang dipertaruhkan adalah nasib nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan empati di ruang-ruang kelas. Jika pendidikan hanya berfokus pada transfer (transfer of knowledge) pengetahuan tanpa transfer nilai (transfer of value), maka intuisi dan lembaga pendidikan tidak lebih dari sekadar pabrik yang memproduksi manusia-manusia berintelektual tapi minim etika dan moral. Sehingga manusia tidak ada bedanya dengan robot cerdas yang tak memiliki jiwa.
Lantas bagaimana pendidikan tetap mampu menjaga nadi kemanusiaan di tengah distorsi zaman yang berubah pesat? Pertanyaan inilah yang patut dimaknai secara serius ketika hari pendidikan menjadi sebuah peringatan yang sakral. Perkembangan teknologi telah memengaruhi kehidupan keragaman manusia di mana era kecerdasan buatan (AI) mampu menjawab pertanyaan teknis jauh lebih cepat daripada manusia itu sendiri. Maka, yang membuat manusia menjadi unggul di masa yang akan datang bukan terletak pada seberapa besar kemampuannya mengingat informasi, melainkan pada kedalam rasa, ketajaman empati, dan kemampuan untuk bekerja sama dalam nilai-nilai kebajkan. Sesuatu yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma mana pun.
Peringatan Hari Pendidikan perlu menjadi titik balik krusial untuk mendefinisikan kembali arah pendidikan. Sudah sejauh mana pendidikan yang berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk memastikan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa bukan semata-semata bertumpu pada kemampuan kognisi. Ia harus diintegrasikan dengan budi pekerti sehingga mampu membangun kesadaran etis sebagai manusia.
Tugas tenaga pendidik menjadi vital dalam mewujudkan hal tersebut. Pendidikan tidak boleh menjadi sekadar sumber tunggal informasi, tetapi harus bertransformasi menjadi fasilitator bahkan katalisator untuk menumbuhkan semangat dan rasa ingin tahu serta mampu menjadi teladan moral.
Di ruang kelas, diskusi mengenai etika (adab) harus menempati posisi yang sama pentingnya dengan penyelesaian soal matematika. Pemahaman terhadap empati sosial harus mendapat apresiasi setinggi teori-teori fisika dan kimia. Dengan demikian, ruang kelas dapat menjadi laboratorium kehidupan nyata, bukan sekadar ruang administratif pencetak sarjana.
Bangsa yang besar tidak dibangun hanya oleh orang-orang berintelektual, tetapi yang memiliki keteraturan moral dan kematangan batin dalam dirinya. Dengan begitu, pendidikan memiliki tugas untuk meruntuhkan berhala terhadap angka yang selama ini mengurung potensi kemanusiaan. Pendidikan perlu merayakan keberagaman bakat dan kecerdasan dengan sudut pandang yang lebih luas.
Hari Pendidikan menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari proses belajar bukan selembar ijazah dengan deretan angka yang tinggi, melainkan lahirnya pribadi yang merdeka. Pribadi yang memiliki akal dan pikiran yang tajam, tetapi juga mempunyai hati yang lembut untuk memahami sekitar. Hanya dengan begitu, pendidikan akan menemukan esensinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.**