Oleh: Afrah Qurratu A’yun
Overthinking adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan sampai pikiran terasa penuh dan sulit tenang. Di kalangan pelajar dan mahasiswa, hal ini makin sering terjadi. Hal-hal sederhana seperti komentar teman, nilai yang kurang memuaskan, tugas yang belum selesai, atau respons di media sosial bisa terus dipikirkan berulang-ulang, seolah tidak ada tombol “berhenti” di dalam kepala.
Dalam kehidupan sehari-hari, overthinking bisa terlihat dari hal-hal kecil. Di sekolah atau kampus, ada yang terus memikirkan kembali percakapan yang sebenarnya sudah lewat. Ada juga yang ragu setelah mengirim pesan atau mengumpulkan tugas, karena takut dinilai negatif. Saat belajar, pikiran jadi tidak fokus karena dipenuhi rasa khawatir, seperti takut gagal atau takut dianggap kurang pintar. Media sosial juga ikut memperparah, karena tanpa sadar kita sering membandingkan diri dengan orang lain, yang akhirnya membuat rasa percaya diri menurun.
Dampaknya bukan cuma soal pikiran, tapi juga ke kondisi fisik dan aktivitas sehari-hari. Pelajar dan mahasiswa yang overthinking biasanya lebih mudah cemas, sulit tidur, dan cepat lelah. Pikiran yang terus bekerja tanpa istirahat membuat tubuh ikut merasakan tekanan. Akibatnya, kegiatan sehari-hari jadi terasa lebih berat dan produktivitas pun menurun.
Selain itu, overthinking juga berpengaruh pada hubungan sosial. Seseorang bisa menjadi lebih pendiam, terlalu berhati-hati saat berbicara, bahkan memilih menghindari interaksi karena takut salah. Ada juga yang jadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil, sehingga mudah salah paham dengan orang lain. Lama-kelamaan, hubungan pertemanan bisa menjadi renggang, dan rasa kesepian pun muncul meskipun berada di tengah banyak orang.
Penyebab overthinking cukup beragam, seperti: tekanan akademik, tuntutan untuk berprestasi, kebiasaan membandingkan diri, hingga kurangnya tempat untuk bercerita menjadi faktor yang paling sering terjadi. Banyak pelajar dan mahasiswa yang memilih memendam masalah karena merasa tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Akibatnya, pikiran terus berputar tanpa solusi.
Overthinking juga membuat seseorang sulit menikmati hidup. Hal-hal sederhana seperti belajar bersama, ikut organisasi, atau sekadar berkumpul dengan teman menjadi kurang menyenangkan karena pikiran yang terus dipenuhi kekhawatiran. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa berdampak ke masa depan, seperti sulit mengambil keputusan dan kurang percaya diri dalam menghadapi tantangan.
Tidak hanya berdampak pada individu, overthinking juga memengaruhi suasana belajar. Di kelas atau ruang diskusi, banyak yang akhirnya memilih diam karena takut salah. Padahal, belajar itu bukan hanya soal materi, tapi juga tentang berani bertanya, mencoba, dan menyampaikan pendapat. Kalau semua takut salah, suasana belajar jadi tidak berkembang.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga memperkuat kebiasaan ini. Informasi yang datang terus-menerus membuat pikiran sulit beristirahat. Kita jadi memikirkan banyak hal sekaligus, termasuk hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi. Tanpa disadari, ini membuat overthinking semakin terbiasa.
Di sisi lain, dukungan dari lingkungan juga sangat penting. Keluarga, teman, serta pihak sekolah dan kampus perlu lebih peka. Hal sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi dan memberi ruang untuk bercerita juga sangat membantu. Kadang, yang dibutuhkan bukan solusi, tapi hanya seseorang yang mau mendengar.
Pada akhirnya, overthinking bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini dapat menghambat perkembangan pelajar dan mahasiswa, baik dalam proses belajar maupun kehidupan sosial. Namun, jika kita mulai lebih peduli dari hal-hal kecil seperti saling mendengarkan, memberi ruang untuk bercerita, dan mengurangi tekanan maka lingkungan yang lebih sehat secara mental dan lebih suportif masih bisa kita wujudkan di masa depan.
Penulis merupakan mahasiswi jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Datokarama Palu