Di sana, aspirasi kembali mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah desa hingga warga Dusun Padoma. Usulan pun beragam—mulai dari program listrik tenaga surya (PLTS), alat kuliner, tenda besi, hingga bibit kakao.
Namun, reses kali ini tak berhenti pada catatan aspirasi. Ada sisi lain yang lebih menyentuh. Di tengah pertemuan, suasana berubah haru saat Fathia menyerahkan 21 paket sembako untuk lansia serta bantuan kasur busa bagi warga kurang mampu.
Langkahnya tak berhenti di forum. Ia memilih mendatangi langsung rumah Bapak Harjun, seorang lansia yang hidup dalam keterbatasan. Di rumah sederhana itu, bantuan diserahkan bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai bentuk kepedulian yang nyata.
“Kami tidak hanya datang untuk mendengar, tetapi juga berupaya meringankan beban warga secara langsung. Terkait kondisi Bapak Harjun, saya sudah berkoordinasi dengan Plt. Camat Tinombo Selatan untuk segera mencarikan solusi jangka panjang bagi beliau,” tegasnya.
Di balik jalur ekstrem yang ia tempuh, tersimpan pesan kuat: bahwa menjadi wakil rakyat bukan sekadar hadir di ruang sidang, tetapi juga menjejakkan kaki di lorong-lorong sunyi, tempat harapan masyarakat menunggu untuk diperjuangkan.
Melalui reses ini, Fathia menegaskan komitmennya—mengawal setiap usulan hingga ke meja legislatif, sembari terus menyalakan sisi kemanusiaan bagi warga di pelosok Parigi Moutong. AJI
