Dalam sesi praktik, peserta dilatih melakukan kompresi dada dengan kedalaman 5–6 cm dan kecepatan 100–120 kali per menit, serta ventilasi bantuan. Simulasi dilakukan menggunakan manikin dengan pendampingan langsung oleh tim instruktur. “Lebih baik melakukan pertolongan meski tidak sempurna, daripada tidak melakukan apa pun. Dalam kondisi darurat, setiap detik sangat berharga”jelas Ismunandar saat demonstrasi.

Sementara itu, Ketua Program Studi Ners, Dr. Helena Pangaribuan, menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berlanjut melalui pembentukan komunitas “Sahabat Jantung” serta pembagian kartu panduan Bantuan Hidup Dasar kepada warga. “Kami ingin masyarakat memiliki kemampuan dasar menyelamatkan nyawa. Dengan pengetahuan ini, siapa pun bisa menjadi penolong pertama saat keadaan darurat,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Desa Nupabomba sangat mengapresiasi kegiatan tersebut dan menilai pelatihan ini sangat bermanfaat bagi warganya.

“Kami sangat berterima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Palu yang telah memilih Desa Nupabomba sebagai lokasi pengabdian masyarakat. Kegiatan ini sangat membantu warga kami dalam memahami cara menangani kondisi darurat, khususnya serangan jantung,”ujarnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Poltekkes Kemenkes Palu dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat peran warga sebagai garda terdepan dalam penanganan kegawatdaruratan. AMR