SULTENG RAYA – Direktur Pengadaan Perum Bulog, Prihasto Setyanto mendorong petani Sulteng menjual hasil panen dalam bentuk gabah dibandingkan dalam bentuk beras.

Metode itu, dinilainya lebih menguntungkan dan lebih mendorong kesejahteraan petani dibanding metode yang selama ini digunakan.

“Padahal kalau menjual dengan gabah, dengan harga pembelian pemerintah Rp6.500 sebetulnya itu jauh lebih menguntungkan. Sayang kan, ketika ada kesempatan petani lebih untung tapi tidak dimanfaatkan,” kata Prihasto kepada awak media usai Rapat Koordinasi di Kantor Bulog Kanwil Sulteng, Jalan Moh. Yamin, Kota Palu, Rabu (15/4/2026).

Ia lantas mendorong Kanwil Sulteng berserta pimpinan di cabang untuk meningkatkan intensitas sosialisasi terhadap metode pembelian gabah tersebut.

“Strateginya ya harus sosialisasi, mau tidak mau. Harus terjun ke lapangan. Paling tidak para mitra-mitra, mereka harus diyakinkan dahulu agar petani mereka juga bisa, dan mau menjual dalam bentuk gabah,” ungkapnya.

Dalam kunjungannya selama dua hari, Prihasto mengunjung Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala untuk memaksimalkan serapan. Hasilnya, dia dan tim membawa pulang serapan ke gudang Bulog sebanyak 133 ton, melampaui target serapan harian di Sulteng sebanyak 55 ton. “Artinya kan potensi itu ada,” katanya lugas.

Di samping itu, Prihasto mendorong sinergi yang kuat antara Pemda, TNI/Polri, penyuluh untuk meningkatkan serapan dengan strategi terpadu dan terintegrasi.

“Saya meminta seluruh pihak, karena ini amanat dari bapak Presiden, agar sinergi, bagaimana upaya-upaya penyerapan untuk cadangan pemerintah bisa dilakukan secara maksimal untuk Sulteng. Kalau semua dikerjakan oleh Bulog, sulit juga,” tutupnya.

Sementara itu, Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog Kanwil Sulteng, Jusri mengatakan, Sulteng memang mendapat target pengadaan yang relatif sedikit dibanding Kanwil lain di Indonesia. Namun demikian, Bulog Sulteng punya tantangan besar yang dihadapi.

“Memang itu tantangan terbesar. Mereka (petani) sudah terbiasa menjual beras. Tapi kalau mereka menjual gabah, itu lebih naik sebenarnya harganya. Tapi kami terus melakukan sosialisasi, kita berupaya semua wilayah kita memiliki mitra,” ungkap Jusri.

Ke depan, kata dia, Bulog Sulteng menyiapkan sejumlah strategi sosialisasi untuk mendorong peningkatan kemitraan dan serapan cadangan beras pemerintah.

“Ke depan kami akan turun, akan coba kami bandingkan hasil penjualan beras dan gabah di tingkat petani, mereka akan melihat bahwa menjual gabah itu lebih untung. Strategi lain akan kami siapkan terkait peningkatan intensitas sosialisasi,” tutupnya. RHT