Babak kedua mengubah cerita. Kaili Putra merespons cepat. Pelatih menarik Fail dan memasukkan Kiswanto, pemain transfer asal Palu. Perubahan itu langsung terasa. Lini tengah menjadi lebih stabil, aliran bola lebih rapi. Junaid mulai mendikte permainan, menyuplai bola ke Sultan, Uci, dan Teguh di lini depan.

Sebaliknya, Khatulistiwa kehilangan satu keping penting. Mizan, motor permainan sekaligus pencetak gol ditarik keluar karena stamina menurun, digantikan Rexi Ardianto. Celah itu dimanfaatkan Kaili Putra. Baru dua menit babak kedua berjalan, Uci menyamakan kedudukan. Kemelut di depan gawang Khatulistiwa tak mampu diantisipasi sempurna oleh Rais. Bola liar disambar Uci. Skor berubah 1–1.

Setelah itu, Kaili Putra menekan lewat kedua sayap, sementara Khatulistiwa bertahan dengan sisa tenaga dan semangat yang tak kunjung padam. Hingga peluit panjang berbunyi, skor tetap tak berubah. Laga harus ditentukan lewat adu penalty, arena paling kejam dalam sepakbola.

Raifan dan Rexi membuka harapan Khatulistiwa dengan eksekusi sempurna. Kaili Putra membalas lewat Uci dan Irfan Soyo. Ketika Junaid gagal pada penendang ketiga Kaili Putra, asa Khatulistiwa sempat membubung. Namun dewi fortuna berpaling. Rio dan Arlan gagal menuntaskan tugasnya.

Sementara Ruliawan dan Teguh melangkah mantap, mengunci kemenangan Kaili Putra. Penalti terakhir Khatulistiwa tak perlu dieksekusi, jarak gol tak lagi terkejar.
Kaili Putra Kayuboko melaju ke perempat final.

Khatulistiwa Lemusa berhenti di sini. Namun mereka pulang dengan kepala tegak membuktikan bahwa keberanian, disiplin, dan semangat lokal bisa membuat tim besar berkeringat hingga titik terakhir. AJI