“Pada anggaran sebesar itu, ekspektasi publik wajar jika mengarah pada metode sodding yang lebih cepat, lebih rapi, dan memberikan kualitas visual serta ekologis yang instan. Penggunaan metode paling ekonomis pada anggaran besar menunjukkan rendahnya rasio kualitas terhadap biaya,” tegasnya.
Pembelaan bahwa pekerjaan landscape terlambat karena menunggu penyelesaian gedung induk justru dinilai Dedi sebagai pengakuan tak langsung atas kegagalan manajemen proyek. “Dalam manajemen konstruksi modern, ketergantungan antar-pekerjaan seharusnya sudah dimitigasi melalui Critical Path Method sejak tahap perencanaan,” jelasnya.
Jika landscape memang merupakan pekerjaan tambahan, kata Dedi, seharusnya jadwalnya tidak dipaksakan pada tahun anggaran yang sama ketika bangunan utama belum mencapai tahap finishing. “Ketika akhirnya dikenakan denda yang disebut relatif kecil, itu bukan sekadar angka. Itu adalah simbol inefisiensi birokrasi dalam mengelola DAK sebagai uang negara,” ujarnya.
Lebih jauh, Dedi menilai pernyataan bahwa pekerjaan telah “sesuai hitungan bobot” bersifat defensif dan mengaburkan substansi persoalan. Landscape perpustakaan, menurutnya, semestinya dirancang sebagai perpanjangan ruang belajar—extension of learning space—bukan sekadar ornamen visual. “Ketiadaan jalur evakuasi, drainase terintegrasi, serta aksesibilitas bagi penyandang disabilitas menunjukkan bahwa proyek ini berhenti pada level dekoratif, bukan fungsional-infrastruktural,” kata Dedi.
Dedi Askary menegaskan bahwa proyek landscape Perpustakaan Daerah Parigi Moutong mencerminkan lemahnya koordinasi antar-satuan kerja dan buruknya perencanaan sejak tahap e-planning.
“Ada jurang yang sangat lebar antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil di lapangan. Narasi teknis yang disampaikan sejauh ini lebih menyerupai apologi administratif untuk menutup kelemahan perencanaan sejak dari hulu,” pungkasnya. AJI