Di titik pemulihan inilah, ekonomi hijau bukan istilah elitis yang jauh dari dapur warga. Justru ia terasa relevan ketika kita bicara pemulihan pascabencana. Sebab persoalannya bukan hanya “bagaimana membangun kembali”, tetapi “bagaimana membangun kembali tanpa mengulang luka yang sama”. Kalau rumah dibangun lagi di titik rawan tanpa perbaikan, kalau daerah resapan terus hilang, kalau aliran air makin tersumbat, kalau lereng dibiarkan gundul, maka pemulihan hanya menjadi jeda sebelum bencana berikutnya. Sumatera memberi alarm bahwa pemulihan harus berubah menjadi kesempatan untuk berbenah—lebih aman, lebih ramah lingkungan, dan lebih tahan guncangan.
Ekonomi hijau dalam pemulihan bencana bisa hadir dalam bentuk yang sangat konkret. Rekonstruksi rumah dan fasilitas publik bisa dibuat lebih tahan bencana dan lebih efisien energi. Program padat karya bisa diarahkan bukan hanya membersihkan sisa bencana, tetapi juga memulihkan alam—memperbaiki saluran air, menata daerah resapan, menanam kembali vegetasi di area rawan longsor, memperkuat perlindungan alami di wilayah pesisir. UMKM yang terdampak bisa dibantu bangkit dengan model usaha yang lebih adaptif: pengolahan sampah pascabencana, produk ramah lingkungan, pertanian yang lebih tahan perubahan cuaca, hingga energi terbarukan skala komunitas di lokasi yang sering terganggu pasokan listriknya. Bahkan teknologi tepat guna yang sederhana—penampungan air hujan, biopori, kompos, peringatan dini berbasis warga—sering lebih “mengena” karena mudah dirawat dan terasa manfaatnya sehari-hari.
Sumatera juga mengingatkan bahwa bencana punya banyak wajah. Saat musim hujan, banjir dan longsor menjadi sorotan. Ketika kemarau datang, sebagian wilayah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan yang mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi. Semua itu terhubung pada satu benang merah: kondisi lingkungan dan cara kita mengelola ruang hidup. Karena itu, jalan ekonomi hijau bukan sekadar agenda besar, melainkan cara praktis untuk mengurangi risiko, menjaga sumber daya, dan memastikan masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban siklus yang sama.
Pada akhirnya, bencana memang menguji solidaritas, tetapi solidaritas terbaik adalah yang mampu mengubah cara kita pulih. Filantropi bisa menjadi tenaga penggerak perubahan itu—mengubah empati publik menjadi kerja yang konsisten, transparan, dan berdampak jangka panjang; menghubungkan bantuan darurat dengan penguatan ketangguhan; serta mendorong pemulihan yang sekaligus membuka jalan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Kita mungkin tidak bisa menghentikan bencana datang, tetapi kita bisa memastikan setiap pemulihan membuat Sumatera lebih siap, lebih kuat, dan lebih aman untuk menghadapi hari-hari yang belum tentu mudah.**