Selanjutnya, Ia berharap agar para peserta ini mampu mengintergrasikan unsur-unsur budaya lokal, seperti tradisi, cerita rakyat, bahasa, dan kearifan lokal lainnya, kedalam berbagai bentuk tulisan, baik itu fiksi, nonfiksi, artikel atau esai.

“Melalui bimtek ini, diharapkan peserta dapat mengembangkan kemampuan menulis yang lebih kreatif dan berbobot, serta dapat berkontribusi dalam melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal melalui tulisan. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mendorong tumbuhnya semangat literasi yang menghargai budaya dan tradisi, sekaligus meningkatkan kemampuan peserta dalam menulis dengan pendekatan yang lebih berbasis pada kearifan lokal dan konteks budaya 13 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Tengah,”harapnya.

Sementara itu, Jamrin mengingatkan kepada peserta bahwa jika ingain menjadi penulis yang baik harus juga bisa menjadi pembaca yang baik. Digital katanya bukan penghalang menjadi seorang penulis sepanjang pandai melihat konten yang harus ditulis.

Selain itu, penulisan fiksi dan sejarah harus bisa dibedakan. “Kalau fiksi membutuhkan tokoh imajiner yang disesuaikan namanya dengan nama lokal, sementara sejarah itu sudah pasti ada tokoh sebagai pelaku sejarahnya,”jelas Jamrin.

Sementara itu Asrianti menyampaikan dalam penulisan harus memperhatikan sasaran pembaca. Untuk masyarakat umum tidak perlu menggunakan banyak istilah ilmiah atau bergaya penulisan karya ilmiah, harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca, serta harus menggunakan judul yang menarik.

“Menulis itu menuangkan ide dan gagasan kita, maka gunakanlah bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca, agar mereka muda memahami,”sebutnya. ENG