Selain sektor pertambangan, hilirisasi juga diterapkan di sektor pertanian dan perkebunan, seperti kelapa sawit dan karet. Industri pengolahan kelapa sawit yang terintegrasi dari hulu ke hilir memungkinkan Indonesia memproduksi turunan seperti biodiesel, oleokimia, dan makanan olahan yang dapat dijual dengan harga jauh lebih tinggi daripada minyak sawit mentah (CPO). Hal ini tidak hanya menguntungkan negara secara finansial, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap ekspor komoditas mentah yang fluktuatif. Dengan meningkatnya permintaan produk turunan yang ramah lingkungan dan bernilai tambah tinggi di pasar global, potensi ekspor Indonesia semakin luas dan menjanjikan.

Keuntungan lainnya dari proyek hilirisasi adalah pemerataan pembangunan. Sebagian besar proyek hilirisasi ditempatkan di luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi dan Kalimantan, yang selama ini relatif tertinggal dalam hal infrastruktur dan investasi industri. Dengan masuknya investor dan pembangunan fasilitas industri, daerah-daerah ini mengalami peningkatan signifikan dalam hal ekonomi lokal, pendidikan, serta kesempatan kerja. Ini sejalan dengan agenda pemerintah untuk mendorong pembangunan yang inklusif dan mengurangi kesenjangan antarwilayah.

Sementara itu, Direktur Utama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mengatakan hilirisasi menjadi strategi utama untuk memperkuat daya saing nasional melalui peningkatan nilai tambah komoditas mineral. Dengan capaian kinerja yang baik, MIND ID sebagai penggerak hilirisasi Indonesia berharap dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi kelangsungan bisnis perusahaan di masa depan, tetapi juga pertumbuhan kinerja ekonomi dan negara.

Meskipun terdapat tantangan teknis, pemerintah telah secara aktif mengantisipasi dan menyelesaikannya dengan pendekatan komprehensif.. Diperlukan regulasi yang mendukung, kepastian hukum, ketersediaan energi, serta infrastruktur yang memadai. Namun, pemerintah telah menunjukkan keseriusan dalam mengatasi berbagai kendala tersebut melalui reformasi birokrasi, pembangunan infrastruktur besar-besaran, serta penyederhanaan perizinan usaha. Dukungan kebijakan fiskal seperti insentif pajak bagi industri pengolahan juga menjadi pendorong utama percepatan hilirisasi di berbagai sektor.