RAYA – Perusahaan Umum Kanwil Sulteng optimistis adanya kebijakan kenaikan harga eceran tertinggi (HET) pada SPHP tidak memicu penurunan penjualan dan kepercayaan konsumen.

Diketahui, per 1 Mei 2024, ada perubahan harga yang ditentukan Bapanas, SPHP yang dulunya Rp9.950 per kilogram (kg) pembelian gudang dengan HET Rp10.900 per kg, saat ini menjadi harga tebus gudang sebesar Rp11.000 per kg, kemudian HET menjadi Rp12.500 per kg.

Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog Kanwil Sulteng, Heriswan, menuturkan, saat ini, kepercayaan konsumen terhadap beras SPHP masih cukup tinggi. Disamping itu, dengan kualitas yang dimiliki, harga itu dinilai masih sangat wajar.

“Kami yakin, kepercayaan terhadap konsumen tetap tinggi, contoh saja, toko RPK kita di depan (Jalan Mohammad Yamin, Kota ) stoknya sering habis, artinya permintaan tetap stagnan meski HET naik,” katanya, Senin (13/5/2024).

“Karena kembali lagi kami tekankan, SPHP ini kualitasnya premium dengan harga medium, boleh dikatakan kadar brokennya hanya lima persen, itu sangat dicari oleh masyarakat. Karena pada bulan puasa kemarin, kita sangat gencar mempromosikan beras SPHP,” ujarnya menambahkan.

Dengan aturan HET baru dari pemerintah tersebut, Pimwil Heriswan mengimbau kepada mitra distribusi untuk menjual sesuai regulasi sehingga harga itu dapat menekan harga beras premium yang saat ini mencapai Rp14.500 di pasar tradisional.

“Para mitra kita boleh menjual maksimal Rp12.500, boleh juga dibawah itu,” katanya.

Lanjutnya, sebagai , stok beras di gudang masih cukup mempuni sekira 13.000 ton. “Stok lain masih akan berdatangan. Belum lagi pengadaan beras lokal, jadi stok beras kita di Sulteng cukup aman,” tutup Pimwil Heriswan. RHT