Oleh: Moh. Iqbal Narjun, S.Kom.I

(Ketua MDS Rijaalul Ansor, PC ANSOR Kota )

Assalaamu'alaikum wr wb.

Di Bulan suci ini, marilah kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, atas segala nikmat dan ampunan yang diberikan kepada kita, dari segala dosa yang pernah kita perbuat dan dari setiap kesalahan yang pernah  kita lakukan.

Marilah kita bershalawat kepada Nabi panutan kita, Nabi Muhammad SAW, semoga dengan limpahan shalawat dan keselamatan tersebut, dapat tercurahkan pula kepada Keluarganya, Sahabat dan para pengikutnya.

Bulan Suci Ramadan, adalah bulan yang penuh kemuliaan, di dalamnya terdapat Rahmat, Berkah dan ampunan Allah SWT, serta adanya jaminan terbebas dari sentuhan api neraka.

Di Bulan Ramadan ini, Allah menanamkan lebih banyak Maghfirah yang lebih indah dari sekedar kata, dunia terasa berhenti sejenak menikmati indahnya berkah dan rahmatnya, dan  akan terasa rugi, apabila nantinya Ramadan akan pergi dan berlalu, akan kupastikan perjalanan hidup di dunia ini, tak seindah kemarin. Sederhananya amal kebaikan yang kita perbuat, sudah cukup untuk melengkapi sempurnanya pahala yang dilipat gandakan Allah SWT.

Mengutip perkataan ahli hikmah, bahwa puasa sebagai neraca keadilan dari ilahi untuk menimbang sama berat, untuk menguji sama banyak, tidak ada yang kurang dan berlebih, yang kaya tidak dapat membanggakan kemuliaannya karena berada bersama sama dalam satu tingkatan pada neraca yang sama berat, yaitu dalam suasana haus dan lapar.

Terdapat dua hadis, yang mempunyai matan hampir serupa, pertama disebutkan:

Barang siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan, dengan keimanan  dan ikhlas semata mata mengharap keridhaan Allah SWT, diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu. (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam terjemahan Hadis kedua, menyebutkan:

Barang siapa yang Mendirikan Qiyaamul Lail (Shalat Sunnah Tarawih) di Bulan Ramadhan, dengan keimanan  dan ikhlas semata mata mengharap keridhaan Allah SWT, diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu. (HR. Bukhari & Muslim)

Begitu pentingnya menjalani Ibadah Puasa dan Mendirikan Shalat Sunnah Tarawih di Bulan Ramadhan, maka janganlah kita mencederai kehadiran Bulan Ramadhan ini, dari hal hal yang tidak ada guna dan manfaatnya yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa itu sendiri.

Puasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, akan tetapi menahan dan respon yang masuk ke dalam panca indra, dari hal hal yang tidak disenangi Allah SWT.

Mata dipuasakan, agar terhindar dari pandangan pandangan yang mempunyai unsur maksiat. Ada baiknya bagi kaum hawa, tidak boleh membuka auratnya, kemanapun ia berada.

Ada yang berpuasa, tapi kemana-mana tidak menutup aurat, ada yang menutup aurat, tapi lekuk tubuhnya masih berbentuk, ada yang menutup aurat tapi masih suka joget joget di Tik Tok.

Telinga dipuasakan, agar menghindari bisik bisik pergaulan yang menjerumuskan pada kebinasaan,

Mulut juga dipuasakan, agar menjauhi perkataan bohong, ghibah dan fitnah. Mari kita perkaya kalimat-kalimat kebaikan yang keluar dari mulut ini, dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an dan mempelajari isi serta kandungannya.  Mengucapkan kata-kata kebajikan dalam membangun hubungan yang baik kepada Allah dan hubungan sesama manusia.

Tangan pun dipuasakan agar jangan mengambil sesuatu yang bukan hak milik kita, termasuk perbuatan-perbuatan keji. Marilah, kita perkaya pahala puasa ini dengan banyak bersedekah, menolong dan merangkul.

Begitupula dengan kaki, juga dipuasakan agar menghindari dari langkah langkah yang mengarah ke tempat maksiat. Marilah kita menyempurkan puasa kita, dengan melangkahkan kaki ke , untuk mendirikan Shalat lima waktu. Sebab, banyak yang berpuasa, tapi tidak shalat, di luar sana, banyak orang yang lebih suka meninggalkan shalat  wajib dan shalat tarawih dengan alasan bukber (Buka Bersama) ataupun pergi ketempat jual beli, Mall, Pasar Lentora dan Pantai.

Terakhir, otak dan hati kita juga dipuasakan, untuk menghindari iri dan dengki, berprasangka buruk, sehingga lebih banyak memunculkan aura-aura negatif, termasuk mengendalikan hawa nafsu. Karena salah satu hal yang menyebabkan batalnya puasa ialah, bersetubuh di siang hari untuk pasangan suami istri dan mengeluarkan mani' secara sengaja, termasuk melakukan tindak kriminalitas.

Oleh sebab itu, marilah kita penuhi hati ini dengan memperbanyak berzikir sebagai bentuk nutrisi kesehatan rohani, agar kita selalu terhindar dan terjaga dari bujuk rayuan Iblis. Sebab, ketika kita memberanikan diri mengatakan menjadi bagian dari orang orang yang beriman, maka semua ujian ujian akan datang silih berganti. Ujian tersebut berupa musibah, kehilangan dan kekurangan serta kelaparan, sebagai seleksi siapakah yang lebih baik amalnya. Oleh sebab itu, hati yang bersih karena hasil tempaan puasa Ramadhan, merupakan bagian dari ekspresi keteguhan iman seorang hamba, yang menjadi tolak ukur, agar kita termasuk orang orang yang disanyangi Allah SWT. 

Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kamu, tetapi Allah memandang kepada hatimu. (HR. Muslim)

Marilah kita, memanfaatkan kehadiran Bulan Suci Ramadan ini, dengan sebaik-baiknya, untuk mengharapkan ampunan Allah SWT. Bahkan kita diseru untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam mengejar ampunan Allah SWT.

Sebagaimana terjemahan Firman Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 133,

Dan bersegeralah kalian mengejar ampunan Allah SWT, dan mengharapkan Surga yang luasnya seluas Langit dan Bumi yang diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa.

Semoga, pada akhir Ramadan nantinya, kita menjadi pribadi Laallakum Tattaqun, merupakan titel yang langsung diberikan Allah SWT, kepada hamba hambanya yang beriman, dalam keadaan Fitrah,  Suci bersih tanpa noda dan dosa, bagaikan Bayi yang baru dilahirkan. Alangkah ruginya bagi kita, apabila nantinya Ramadan akan berlalu, kita tidak mendapatkan apa-apa.

Sebagai penutup tulisan ini, saya berpesan, bahwa jangan sampai kelalaian dalam mengejar kebahagiaan di dunia, menyebabkan kita lalai, dari mengingat Allah SWT.   

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamithariq, Wassalamu'alaikum, wr wb