SULTENG RAYA — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Sulawesi Tengah tak berhenti pada seremoni.

Ia tumbuh menjadi ruang refleksi yang hangat sekaligus menggugah, saat ratusan insan pendidikan berkumpul dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh PGRI Sulawesi Tengah bersama Dinas Pendidikan Provinsi.

Di balik layar-layar digital yang terhubung dari berbagai daerah, sekitar 671 peserta menyimak dengan penuh perhatian. Mereka datang dari beragam latar—kepala sekolah, guru lintas jenjang, hingga pengurus organisasi Pendidikan, membawa satu harapan yang sama yakni masa depan pendidikan yang lebih bermakna.

Di tengah forum itulah, sosok Dr. Ir. Kasmudin Mustapa, S.Pd, M.Pd tampil sebagai narasumber utama. Dengan gaya tutur yang reflektif namun tegas, ia mengajak peserta menatap ulang peran guru di tengah arus perubahan zaman melalui tema “Guru Masa Depan: Profesional, Humanis, dan Adaptif”.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Drs. Firmanza DP, SH, M.Si, serta diperkuat kehadiran Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd sebagai keynote speaker. Kombinasi ini menjadikan forum terasa tidak sekadar formal, tetapi juga sarat energi perubahan.

Dalam paparannya, Kasmudin tidak hanya berbicara tentang teori pendidikan. Ia menyentuh realitas yang dihadapi guru hari ini, mulai dari derasnya disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, krisis nilai kemanusiaan, hingga tekanan administratif yang kerap membelenggu ruang gerak pendidik.

Namun dari sekian banyak isu, satu hal yang ia soroti dengan nada paling tegas adalah perlindungan dan kesejahteraan guru. “Guru hari ini berada dalam dilema. Ketika tegas dianggap keras, ketika diam dianggap lemah. Kita tidak boleh membiarkan guru mendidik dalam ketakutan,” ujarnya, disambut antusias peserta yang merasa suara mereka terwakili.

Baginya, masa depan pendidikan tidak cukup ditopang oleh kecanggihan teknologi semata. Kasmudin mengingatkan, kecerdasan buatan mungkin mampu menyajikan informasi, tetapi tidak akan pernah menggantikan empati, nilai, dan keteladanan yang dimiliki seorang guru. “Kita tidak bisa mengajar generasi digital dengan cara analog. Tapi lebih dari itu, kita juga tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaan dalam pendidikan,” tegasnya.