Putra kelahiran Desa Tomoli Kecamatan Toribulu Kabupaten Parigi Moutong ini kemudian menekankan pentingnya keseimbangan antara kompetensi profesional, pendekatan humanis, dan kemampuan adaptif sebagai fondasi guru masa depan.
Lebih jauh, Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (PMIPA) FKIP Universitas Tadulako ini menyerukan agar perlindungan guru tidak lagi menjadi wacana, melainkan gerakan nyata yang sistemik.
Menurutnya, guru harus dilindungi secara hukum, diberi ruang berinovasi, terbebas dari tekanan berlebihan, serta mendapatkan kesejahteraan yang layak. “Melindungi dan mensejahterakan guru bukan sekadar membela profesi, tetapi menjaga masa depan bangsa,” ungkapnya.
Gagasan tersebut sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si melalui program “Berani Cerdas”. Dalam pandangan Kasmudin, keberanian untuk berubah dan kecerdasan dalam mengambil keputusan hanya dapat terwujud jika guru ditempatkan sebagai aktor utama—agen perubahan yang menanamkan nilai dan membangun generasi tangguh.
Menutup paparannya, Kasmudin mengajak seluruh peserta kembali pada hakikat pendidikan itu sendiri. “Pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh guru yang dimuliakan dan dilindungi,” tuturnya.
Webinar ini pun menjadi lebih dari sekadar diskusi. Ia menjelma menjadi cermin Bersama bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau teknologi, tetapi oleh sejauh mana bangsa ini menghargai gurunya hari ini.
Dengan pesan penutup yang mengendap kuat di benak peserta, Kasmudin menegaskan.
“Jika ingin pendidikan maju, muliakan guru. Jika ingin generasi unggul, lindungi guru.
Jika ingin masa depan cerah, percayakan perubahan kepada guru,” pungkasnya. AJI