SULTENG RAYA — Di tengah geliat bisnis durian yang kian menjanjikan di Sulawesi Tengah, sebuah kerja sama justru retak sebelum panen benar-benar berpihak. Harapan yang semula terjalin antara perusahaan dan suplier berubah menjadi persoalan yang kini berada di ambang jalur hukum.

PT Hoki Renjana Sejahtera, salah satu penyuplai gudang durian di Sulteng, mengaku kecewa atas tidak terpenuhinya kesepakatan pasokan oleh suplier asal Kabupaten Morowali Utara, Rifai Djamaluddin. Kesepakatan yang dibangun dengan komitmen bisnis itu kini menyisakan polemik soal tanggung jawab dan kepercayaan.

Direktur PT Hoki Renjana Sejahtera, Fayed, mengungkapkan bahwa perjanjian kerja sama dilakukan untuk memasok durian dari Morowali Utara. Sebagai bentuk keseriusan, perusahaan telah mengucurkan dana awal sebesar Rp100 juta pada 2 Maret 2026 untuk pengadaan sekitar 6 ton durian.

Namun, realisasi di lapangan jauh dari harapan. Tiga hari berselang, pasokan yang masuk hanya 869 kilogram dengan nilai sekitar Rp25,9 juta. Setelah itu, tidak ada lagi pengiriman lanjutan. Situasi tersebut mendorong perusahaan meminta pengembalian sisa dana. Hingga kini, pengembalian baru dilakukan dalam dua tahap, yakni Rp25 juta pada 9 Maret dan Rp10 juta pada 8 April 2026. Artinya, masih tersisa kewajiban sebesar Rp39.093.000 yang belum diselesaikan.

“Kami berharap Pak Rifai segera menyelesaikan kewajibannya. Ini bukan hanya soal angka, tetapi menyangkut kepercayaan dan komitmen dalam kerja sama bisnis,” ujar Fayed, Jumat (24/4/2026).