Ia menegaskan, persoalan ini bukan sekadar administrasi, tetapi telah berdampak pada operasional perusahaan. Jika tidak ada itikad penyelesaian dalam waktu dekat, pihaknya membuka kemungkinan menempuh langkah hukum.

Meski demikian, perusahaan masih mengedepankan penyelesaian secara kekeluargaan, berharap hubungan bisnis yang sempat terjalin tidak harus berakhir di meja hukum. Di sisi lain, Rifai Djamaluddin tidak menampik adanya kerja sama tersebut, termasuk sisa kewajiban yang belum ia kembalikan. Namun, ia memiliki pandangan berbeda terkait penyelesaian masalah.

Menurutnya, sisa dana tersebut sejatinya dapat ditutupi melalui pasokan durian yang tersedia di wilayahnya. Ia mengklaim buah sudah siap, hanya saja mekanisme pengambilan menjadi kendala.
“Awalnya perjanjian mereka datang ambil durian, tapi tiba-tiba tidak jadi. Jadi saya juga bingung mau kembalikan uangnya lewat apa,” ujarnya.

Rifai menyebut, jika pihak perusahaan bersedia mengambil langsung durian dari petani di Morowali Utara, maka selisih yang ada bisa diselesaikan melalui hasil panen tersebut. “Barangnya siap. Kalau mau ambil, tinggal datang. Nanti ditimbang di petani, selisihnya bisa menutup sisa dana,” pungkasnya.

Di antara angka dan janji, persoalan ini menjadi cerminan bahwa dalam bisnis komoditas musiman seperti durian, kepercayaan adalah mata uang yang tak kalah penting dari rupiah. Ketika komunikasi tersendat, yang tersisa bukan hanya kerugian, tetapi juga relasi yang terancam runtuh. AJI