Oleh : Aslamuddin Lasawedy

(Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik)

SUBUH itu, sebelum matahari sepenuhnya bangun, terlihat dua keadaan manusia yang sepertinya bertolak belakang. Ada yang berdiri shalat menghadap kiblat dengan hati yang begitu lapang. Ada pula yang bangkit untuk shalat dengan langkah yang sangat berat, seolah sedang terpaksa memenuhi kewajibannya.

Pertanyaannya kemudian, mengapa Tuhan mewajibkan shalat, padahal Tuhan tidak membutuhkan shalat manusia ? Jika Tuhan Maha Segala-galanya, mengapa ibadah harus diwajibkan ? Menjawab pertanyaan ini, seolah melihat langit dari jendela yang kecil. Ia membutuhkan perspektif yang lebih luas agar maknanya tidak terjebak pada pandangan yang sempit.

Dalam teologi Islam, Tuhan digambarkan sebagai Zat yang Maha Kaya dan tidak bergantung kepada apa pun. Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh ibadah manusia tidak menambah kemuliaan Tuhan sedikit pun.

Artinya, shalat bukanlah kebutuhan Tuhan. Shalat adalah kebutuhan manusia yang diformalkan menjadi kewajiban. Mengapa ? Karena manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Ia sering lupa kepada asalnya. Ia kerap lupa pada batas dirinya. Ia bahkan sering lupa bahwa hidup yang ia jalani hanyalah persinggahan singkat.

Tanpa pengingat yang teratur, manusia mudah tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Disinilah shalat lima kali sehari hadir seperti mercusuar waktu yang menandai perjalanan hidup seseorang. Setiap adzan adalah pengingat bahwa hidup ini bukan milik manusia.

Nah, kewajiban shalat bagi banyak orang sering dipandang sebagai bentuk paksaan. Namun dalam banyak hal, kewajiban shalat ini, justru merupakan bentuk kasih sayang Tuhan. Ibaratnya seperti seorang anak yang diwajibkan belajar, dimana belajar itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Namun bila anak itu tidak belajar, maka anak itu akan kehilangan masa depannya.

Begitu juga manusia yang diwajibkan untuk shalat, ada manfaat positif disana, agar manusia secara teratur dapat berhubungan secara spiritual dengan Tuhannya.