Nikita Aprilianingsih dan Marina
Kesehatan Masyarakat,
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu
Banjir kembali melanda wilayah Tolitoli di Sulawesi Tengah dan menjadi pengingat bahwa bencana ini bukan sekadar peristiwa alam biasa. Hampir setiap musim hujan, beberapa kawasan di Kabupaten Tolitoli harus menghadapi genangan air yang merendam rumah warga dan mengganggu aktivitas masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa banjir telah menjadi persoalan berulang yang membutuhkan penanganan serius dari pemerintah dan masyarakat.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, banjir besar yang terjadi pada Oktober 2025 berdampak luas di Kecamatan Baolan. Hujan deras yang terjadi selama beberapa jam menyebabkan sungai meluap dan air menggenangi permukiman warga hingga ketinggian lebih dari satu meter di beberapa titik. Kondisi ini membuat warga kesulitan beraktivitas dan sebagian harus meninggalkan rumah mereka untuk sementara waktu.
Data BPBD mencatat bahwa banjir tersebut merendam sekitar 1.345 rumah warga di lima kelurahan, yaitu Tuweley, Baru, Nalu, Tambun, dan Panasakan. Selain itu, sekitar 139 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka tidak dapat ditempati selama banjir berlangsung. Pemerintah daerah dan BPBD telah menyediakan lokasi pengungsian sementara, lengkap dengan tenda darurat, fasilitas sanitasi dasar, dan suplai logistik berupa makanan, air bersih, serta kebutuhan kesehatan. Namun, keterbatasan kapasitas dan sarana sering menjadi tantangan, terutama bagi keluarga dengan anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
BPBD juga mencatat bahwa dampak banjir tidak hanya terjadi pada permukiman warga, tetapi juga pada berbagai fasilitas umum. Beberapa ruas jalan utama terendam air, sarana pendidikan dan tempat ibadah terdampak, serta jaringan air bersih dan listrik sempat mengalami gangguan akibat genangan air yang cukup tinggi. Selain itu, banjir juga menyebabkan kerusakan pada beberapa infrastruktur pengaman sungai seperti bronjong yang berfungsi menahan erosi di tepi sungai. Kerusakan tersebut membuat risiko banjir semakin besar jika tidak segera diperbaiki oleh pemerintah daerah.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, banjir di Tolitoli menimbulkan risiko serius. Genangan air dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk, meningkatkan potensi wabah penyakit seperti demam berdarah, malaria, dan chikungunya. Air yang tercemar limbah rumah tangga atau tinja berpotensi memicu diare, infeksi saluran pernapasan, infeksi kulit, serta penyakit cacingan. Kondisi pengungsian yang padat dan kurang sanitasi dapat mempercepat penyebaran penyakit menular. Oleh karena itu, selain penyediaan makanan dan air bersih, penyiapan layanan kesehatan darurat di lokasi pengungsian menjadi hal krusial untuk mencegah penyakit yang dapat muncul pasca-banjir.