(Memadukan Profesionalisme, Kapasitas dan Keikhlasan)
Oleh: Muhd Nur Sangadji
Semalam, di acara takziah kematian tetangga, seorang penceramah Mengurai pasal kematian. Beliau bilang, kematian itu adalah pelajaran besar (tarbiyahtul akbar). Diuraikan juga bahwa batasnya tipis sekali. Bahkan untuk orang tertentu. Sebenarnya tidak ada kematian. Meskipun telah melalui pintu maut.
Memang agama Islam mempercayai, sejumlah Nabi yang hingga kini masih hidup. Mereka itu antara lain ; Nabi Idris, Ilyas, Khaidir…dan Nabi Isa AS. Mereka belum melewati jalan kematian atau maut. Tapi, yang dijelaskan penceramah adalah mereka yang sekalipun telah melewati peristiwa maut.
Sesungguhnya, mereka ini tidak mati. Siapa mereka ..? Yaitu, orang orang yang berjuang di jalan Allah (jihad). Sementara, jihad sendiri tidak selalu bermakna perang fisik membela agama. Dasar berpatoknya (Dalil Naqli) sangat jelas.
Qur’an menjelaskan dengan sangat terang.
Wa lā taḥsabannallażīna qutilụ fī sabīlillāhi amwātā, bal aḥyā`un ‘inda rabbihim yurzaqụn, Artinya : Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rizki (Q.S Ali Imran, 169).
Dalam konsep ilmu pengetahuan biologi atau ilmu alam misalnya. Kita mengenal dua jenis mahluk. Mahluk hidup (biotik). Dan, mahluk tidak hidup (abiotik). Padahal, Al Qur’an menyebut dengan gamblang bahwa semua mahluk di kolong langit ini bertasbih. Logikanya, berarti semuanya hidup. Qur’an Surat Al Hadid, ayat 1, menerangkan.
“Sabbaha lillahi ma fessamawati wal-ardi wahuwaal azeezulhakeem”. “Whats ever is in the heavens and the earth glorifies Allah, and He is the All-Mighty, All-Wise”. (Semua yang berada di kolong langit ini bertasbih dengan cara mereka sendiri).
Di ayat yang lain, Allah menegaskan tentang kepemilikan mutlaknya atas alam semesta ciptaannya. “lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ”. Artinya : Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi (Al Baqarah, 284).