OLEH: GUS MAN

(Pegiat Lingkungan)

Ramadan selalu identik dengan pengendalian diri. Kita menahan lapar, dahaga, dan emosi. Namun di tengah krisis iklim, polusi plastik, serta kerusakan hutan yang kian nyata, mungkin ada satu hal lagi yang perlu kita tahan: gaya hidup yang berlebihan dan tidak ramah lingkungan.

Ironisnya, bulan suci justru sering diikuti lonjakan konsumsi. Sampah makanan meningkat, penggunaan plastik sekali pakai saat berbuka melonjak, dan listrik menyala hampir tanpa jeda. Padahal esensi Ramadan adalah kesederhanaan.

Dalam ajaran Islam, manusia disebut sebagai khalifah di bumi—penjaga, bukan perusak. Ramadan bisa menjadi momentum spiritual sekaligus ekologis.

Bayangkan jika setiap keluarga mengurangi food waste saat sahur dan berbuka, membawa wadah sendiri saat membeli takjil, atau memilih produk lokal yang jejak karbonnya lebih rendah. Dampaknya akan terasa nyata.