Penulis: Ni Nyoman Sutiari dan Suhestianigras S
Magister Kesehatan Masyarakat,
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu 2026
Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi momok serius di Kabupaten Poso, bahkan kini harus dianggap sebagai alarm kesehatan yang mengancam jika tidak ditangani secara serius. Pada tahun 2024, Poso mencatat sekitar 284 kasus DBD, menjadikannya salah satu kabupaten dengan jumlah kasus tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah, bersama dengan daerah lain seperti Kota Palu dan Morowali Utara. Data ini menunjukkan bahwa DBD bukan sekadar peristiwa sporadis, tetapi masalah kesehatan masyarakat yang nyata dan berulang setiap tahun.

Angka tersebut tentu memiliki dampak sosial-ekonomi yang tidak boleh diremehkan. Setiap kasus berarti ada warga yang sakit, biaya perawatan yang harus ditanggung keluarga, serta hilangnya produktivitas sehari-hari. Belum lagi bila kasus meningkat di puskesmas atau rumah sakit lokal yang kewalahan menangani lonjakan pasien. Tren global menunjukkan bahwa Indonesia masih mengalami beban tinggi DBD; pada 2025 saja terdapat 161.752 kasus di seluruh negeri dengan 673 kematian, yang memperlihatkan besarnya ancaman penyakit ini secara nasional.
Permasalahan DBD di Poso tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan refleksi dari tantangan yang lebih besar: pencegahan yang belum optimal dan kesadaran masyarakat yang masih rendah. Banyak lingkungan di Poso masih memiliki genangan air di pekarangan rumah, wadah bekas, dan tempat penampungan air yang tidak tertutup, yang menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti vektor utama penular DBD. Risiko besar ini semakin diperparah oleh minimnya konsistensi dalam praktik pencegahan sederhana seperti 3M Plus (Menguras, Menutup, Mengubur).
Siklus penanganan DBD di Poso masih cenderung reaktif. Pemerintah dan dinas kesehatan sering kali hanya meningkatkan intervensi ketika kasus sudah melonjak tinggi, sementara upaya preventif yang berkelanjutan kurang mendapat perhatian. Fogging yang dilakukan sporadis tanpa dibarengi dengan edukasi aktif kepada masyarakat sering hanya bersifat sementara. Padahal tanpa perubahan perilaku warga dan pembinaan lingkungan yang berkesinambungan, nyamuk akan terus berkembang biak dan kasus DBD akan terus naik setiap musim hujan.