Oleh : I Gusti Ayu Ng. Susanti dan Moh.Nasir Sakka
Banjir bandang kembali menyapa berbagai wilayah Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, peristiwa serupa dilaporkan di sejumlah daerah di Pulau Sumatera, termasuk di Aceh dan Sumatera Barat yang menyisakan luka mendalam. Rumah warga terendam, infrastruktur rusak, aktivitas ekonomi lumpuh. Setiap kejadian selalu disebut sebagai “bencana alam”. Namun, benarkah semata-mata karena faktor alam?
Jika ditelaah lebih dalam, banjir bandang sering kali bukan sekadar akibat curah hujan tinggi. Ia adalah akumulasi dari kerusakan lingkungan di hulu daerah aliran sungai (DAS), alih fungsi lahan yang tak terkendali, hingga tata ruang yang longgar dalam pengawasan. Cuaca ekstrem memang menjadi pemicu, tetapi kerusakan ekosistemlah yang memperparah dampaknya. Dalam konteks ini, banjir bandang bukan hanya bencana fisik, melainkan juga krisis kesehatan masyarakat yang dampaknya bisa berlangsung lama setelah air surut.
Ancaman Nyata bagi Kesehatan Masyarakat
Pasca banjir bandang, persoalan terbesar sering kali justru muncul ketika sorotan media mulai berkurang. Genangan air kotor bercampur lumpur dan sampah menciptakan lingkungan ideal bagi berkembangnya berbagai penyakit berbasis lingkungan. Kasus diare, disentri, penyakit kulit, hingga demam berdarah cenderung meningkat akibat sanitasi yang memburuk. Fasilitas kesehatan pun kerap kewalahan menghadapi lonjakan pasien dalam waktu singkat.
Selain itu, krisis air bersih menjadi ancaman serius. Sumber air tercemar, sumur terendam, dan jaringan perpipaan rusak. Dalam kondisi pengungsian, keterbatasan air bersih bukan hanya memicu penyakit infeksi, tetapi juga berdampak pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Gangguan asupan gizi mudah terjadi ketika distribusi makanan terhambat dan kualitas konsumsi tidak terjamin.
Kita sering memandang banjir sebagai peristiwa yang selesai ketika air surut. Padahal, bagi tenaga kesehatan masyarakat, fase pasca-bencana justru menjadi periode kritis. Risiko penyakit menular, masalah kesehatan mental, hingga gangguan gizi dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Di sinilah terlihat bahwa banjir bandang bukan hanya urusan tanggap darurat, tetapi persoalan sistemik yang berkaitan erat dengan kebijakan lingkungan.
Penataan Lingkungan sebagai Investasi Kesehatan