SULTENG RAYA – PT Vale Indonesia angkat bicara merespons berbagai temuan lembaga masyarakat sipil terkait proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Melalui Direktur dan Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer, Budiawansyah, perusahaan menegaskan bahwa seluruh tahapan proyek—termasuk pembukaan lahan dan pengelolaan air tambang—dijalankan dengan prinsip pertambangan yang baik dan berkelanjutan, berbasis kajian ilmiah serta pengawasan ketat lingkungan.
Budiawansyah menegaskan, sebelum aktivitas penambangan dimulai pada 2026, PT Vale telah lebih dulu menyusun kajian hidrologi komprehensif untuk memastikan air limpasan tambang memenuhi baku mutu lingkungan.
Kajian tersebut mencakup pemetaan daerah tangkapan air, arah aliran, hingga perhitungan potensi erosi dan sedimentasi, yang kemudian diterjemahkan dalam desain fasilitas pengendali sedimen.
“Pemantauan kualitas air kami lakukan secara rutin sebelum dialirkan ke badan air. Ini bukan sekadar kewajiban administratif, tapi bagian dari komitmen nyata kami dalam mengelola lingkungan,” kata Budiawansyah.
Menanggapi isu pembukaan lahan, Budiawansyah meluruskan data yang beredar. Ia menyebut, hingga kini total bukaan lahan di wilayah IUPK Pomalaa baru mencapai 4,3 persen dari total izin, dengan bukaan di kawasan hutan lindung hanya 0,4 persen.
“Untuk periode 2024–2025, bukaan lahan baru kami catat 487,9 hektare, bukan 854,29 hektare seperti yang disampaikan dalam surat kajian,” tegasnya.
Soal kekhawatiran kondisi kesehatan warga Desa Hakatutobu, Budiawansyah menekankan pentingnya melihat konteks wilayah secara menyeluruh. Berdasarkan penelusuran perusahaan, desa tersebut berada pada daerah aliran sungai yang berbeda dengan aliran air limpasan tambang PT Vale.
“Keselamatan masyarakat dan lingkungan adalah prioritas utama kami. Karena itu, setiap isu kami respons dengan data dan pemetaan yang terukur,” ujarnya.
Sebagai pembanding, Budiawansyah menunjuk praktik pertambangan PT Vale di Sorowako, Sulawesi Selatan, yang telah mengantarkan perusahaan meraih PROPER Emas 2024 serta sejumlah penghargaan ESG internasional.
“Kami percaya transparansi adalah kunci membangun tambang yang lebih baik. Kami terbuka terhadap kritik dan masukan konstruktif dari masyarakat maupun LSM,” tutupnya. RHT