Dalam kesempatan itu, gubernur menegaskan bahwa toleransi di Indonesia merupakan warisan besar para pendiri bangsa. Ia menyinggung proses lahirnya Pancasila dan Piagam Jakarta yang menurutnya menjadi bukti besarnya semangat saling menghargai demi menjaga persatuan Indonesia.

“Tokoh-tokoh dahulu mungkin tidak secanggih kita sekarang, tapi toleransinya luar biasa. Mereka berpikir jauh ke depan bahwa Indonesia hanya akan maju kalau toleransi dijaga,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong seluruh umat beragama untuk kembali meramaikan rumah-rumah ibadah. Menurutnya, masjid, gereja, pura, dan tempat ibadah lainnya tidak hanya berfungsi sebagai bangunan simbolik, tetapi menjadi pusat pembinaan moral dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.

Gubernur menilai suasana keagamaan yang hidup akan memperkuat ketertiban dan mencegah munculnya provokasi di tengah masyarakat. Ia mencontohkan suasana ibadah berjamaah yang menurutnya mampu menghadirkan ketenangan dan keteraturan meski dihadiri ribuan orang. “Kalau rumah ibadah ramai dengan jamaah, jemaat dan umat, siapa yang berani masuk memprovokasi? Nilai spiritual itu menghadirkan rasa damai dan rasa aman,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan fisik semata tidak akan cukup tanpa pembangunan moral masyarakat. Menurutnya, rumah ibadah yang megah tidak memiliki makna apabila tidak diisi dengan pembinaan umat dan kehidupan spiritual yang kuat.

Dalam dialog itu, gubernur turut menjelaskan visi Berani Berkah yang kini menjadi salah satu pendekatan pembangunan di Sulawesi Tengah. Ia meyakini kesejahteraan dan keamanan hanya dapat tercapai apabila nilai spiritual hadir dalam kehidupan masyarakat.

Di akhir penyampaiannya, gubernur mengapresiasi FKUB Sulawesi Tengah yang dinilainya berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama di daerah itu. Ia bahkan menyebut FKUB Sulteng kini mulai menjadi rujukan daerah lain. “Beberapa hari lalu ada FKUB dari luar daerah datang khusus belajar ke Sulawesi Tengah. Ini menunjukkan kerukunan kita sudah dikenal luas,” tutupnya. **WAN