Lebih jauh, Erwin bahkan mengucapkan sumpah moral di hadapan para undangan. Jika terbukti ada praktik jual beli jabatan, ia memastikan sanksi berat akan dijatuhkan. “Demi Allah, kalau terbukti, kita berhentikan. Ini pelanggaran serius. Mau jadi apa daerah ini kalau hal seperti ini dibiarkan,” ucapnya dengan nada penuh penekanan.

Di balik ketegasan itu, Erwin juga mencoba menarik fokus pada persoalan yang lebih mendasar: kualitas pendidikan di daerah. Ia mengingatkan, masih banyak pekerjaan rumah yang menanti, terutama di wilayah terpencil.

Dari hasil kunjungannya, ia menyaksikan langsung kondisi sekolah yang memprihatinkan, bahkan ada siswa yang harus menyeberangi sungai untuk bersekolah—sebuah perjalanan yang terhenti saat air meluap.

Tak hanya itu, program makanan bergizi gratis pun belum sepenuhnya menjangkau seluruh sekolah. “Masih banyak anak-anak kita yang aksesnya sulit, fasilitasnya terbatas. Ini yang harus kita kejar bersama,” tuturnya, mengalihkan perhatian dari polemik ke realitas di lapangan.

Pelantikan tersebut turut dihadiri Ketua dan sejumlah anggota DPRD Parigi Moutong, para kepala OPD, serta tamu undangan lainnya.

Di tengah sorotan dan keraguan, momen itu menjadi semacam penegasan arah: bahwa di balik isu yang mengemuka, pemerintahan tetap berjalan—dan diuji, bukan hanya oleh program, tetapi juga oleh integritas. AJI