Bibit-bibit itu bukan sekadar tanaman, melainkan simbol investasi masa depan bagi petani. “Ini adalah realisasi dari aspirasi sebelumnya. Kita ingin petani punya peluang lebih baik untuk meningkatkan pendapatan,” kata Uky.

Tak hanya sektor ekonomi, perhatian juga diberikan pada generasi muda. Satu set alat hadroh diserahkan kepada kelompok pemuda Gunung Mulya—sebuah dorongan agar aktivitas religius dan positif terus tumbuh di tengah masyarakat.

Dari Kampal hingga Sumbersari, reses ini menghadirkan dua wajah sekaligus: potret kebutuhan mendesak dan harapan yang mulai ditanam. Di satu sisi, ada persoalan sosial yang membutuhkan perhatian serius. Di sisi lain, ada langkah kecil yang diharapkan menjadi awal perubahan.

Bagi pemerintah desa dan kelurahan, kehadiran Uky bukan sekadar mendengar. Ia datang membawa respons—meski belum sepenuhnya menjawab semua, namun cukup untuk menunjukkan bahwa suara warga tidak berhenti sebagai keluhan.

Reses pun berakhir, namun cerita yang dibawa pulang tidak sederhana. Ia menjadi pengingat bahwa di balik setiap aspirasi, ada tanggung jawab yang harus terus diperjuangkan—agar harapan masyarakat tak sekadar didengar, tetapi benar-benar diwujudkan. AJI