Bagi Safrudin, mengajarkan literasi kepada anak-anak tidak boleh hanya sebatas mengajak mereka membaca buku. Lebih dari itu, anak-anak harus diberi ruang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dalam bentuk karya yang bisa dinikmati orang lain.

“Kami ingin membiasakan para siswa dengan aktivitas-aktivitas literasi secara nyata. Mereka tidak hanya kami ajak membaca, tapi kami mengajak mereka untuk membuat karya secara langsung. Melalui buku ini, mereka belajar bahwa suara dan cerita mereka punya nilai,” tambahnya.

Momen penyerahan buku ini mendapat apresiasi tinggi dari para pejabat yang hadir. Langkah SDN 25 Banawa dinilai sukses membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, siswa sekolah dasar mampu menghasilkan karya yang membanggakan. Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Donggala untuk terus berinovasi.

Dengan lahirnya buku “Jejak Kasih Ayah dan Ibu”, SDN 25 Banawa telah memberikan kado terindah bagi hari pendidikan nasional tahun ini, yakni lahirnya generasi penulis masa depan dari bangku sekolah dasar. WAN