Untuk menjaga integritas ujian, panitia menerapkan sistem pengawasan ganda. Peserta diwajibkan menggunakan dua perangkat selama ujian berlangsung: satu perangkat utama untuk mengakses sistem CBT sekaligus memantau aktivitas peserta, serta perangkat tambahan melalui Zoom untuk mengawasi lingkungan sekitar peserta.

Sebelum ujian dimulai, peserta diminta memastikan kondisi ruangan dalam keadaan steril tanpa kehadiran orang lain. Sistem ini juga dilengkapi dengan pemantauan real-time serta aturan ketat, seperti kewajiban mengaktifkan kamera selama ujian berlangsung. “Dengan dua sistem pengawasan ini, potensi kecurangan dapat diminimalkan secara signifikan,” jelasnya.

Panitia telah melakukan berbagai persiapan teknis, termasuk pelatihan penggunaan sistem CBT kepada peserta sejak 26 April. Selain itu, komunikasi aktif melalui grup WhatsApp juga dilakukan untuk membantu peserta mengatasi kendala teknis. Secara umum, pelaksanaan simulasi berjalan lancar tanpa kendala berarti. Panitia menilai kesiapan sistem sudah optimal, sementara tantangan utama lebih pada adaptasi peserta terhadap penggunaan teknologi.

Pelaksanaan ujian dijadwalkan pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu) sebagai bentuk pertimbangan terhadap kondisi peserta. Banyak peserta merupakan pekerja, baik ASN maupun karyawan swasta, sehingga waktu akhir pekan dinilai lebih fleksibel. Selain itu, peserta dari daerah dengan keterbatasan jaringan juga memiliki kesempatan lebih baik untuk mengakses internet yang stabil saat hari libur.

Ke depan, Universitas Tadulako berkomitmen untuk terus menggunakan sistem CBT dalam proses seleksi pascasarjana. Dengan evaluasi dari pelaksanaan pertama ini, diharapkan sistem akan semakin optimal pada tahun-tahun berikutnya. “Walaupun ini adalah pelaksanaan pertama dan masih dalam tahap penyesuaian, kami optimistis ke depan sistem ini akan berjalan lebih baik dan stabil,” tutup Ketua Pelaksana.*ENG