“Ini bukan hanya satu perusahaan, ini gerakan. Ini ekosistem. Kalau semua bergerak bersama, Sulawesi Tengah tidak hanya jadi pemain—kita bisa menjadi penguasa pasar durian dunia,” katanya dengan nada optimistis.

Momentum pelepasan ekspor, lanjutnya, bukan lagi sekadar seremoni atau uji coba. Ini adalah konsolidasi kekuatan yang menegaskan posisi Sulawesi Tengah di peta perdagangan global. Dukungan dari pemerintah provinsi, otoritas karantina, asosiasi seperti Apdurin, hingga jaringan KADIN menjadi fondasi yang mempercepat langkah tersebut.

Kini, arah yang dituju bukan lagi sekadar pengiriman puluhan ton. Faradiba mendorong lompatan yang lebih besar—ekspor dalam skala ratusan hingga ribuan ton secara berkelanjutan, dengan visi menguasai pasar. “Kalau kita ingin menjadi raja durian dunia, kita harus berpikir besar dan bertindak lebih besar. Ini momentum, dan kita tidak boleh kehilangannya,” tegasnya.

Di ujung pernyataannya, ia menyampaikan pesan yang menggambarkan posisi Sulawesi Tengah hari ini: bukan lagi di garis start, melainkan sudah berada di lintasan. “Kita tidak sedang mulai. Kita sudah di dalam. Sekarang saatnya gas penuh, perbesar, perkuat, dan kuasai pasar dunia,” pungkasnya. AJI