Nada optimisme juga disampaikan langsung oleh gubernur. Ia menegaskan bahwa Sulawesi Tengah tidak boleh berhenti sebagai penonton dalam arus perdagangan global.Potensi yang dimiliki, kata dia, harus diiringi keberanian untuk mengambil peran sebagai pemain utama. “Sulawesi Tengah tidak boleh hanya jadi penonton. Kita harus jadi pemain utama. Kita punya kualitas, kita punya potensi—sekarang saatnya kita kuasai pasar,” tegasnya.
Dukungan terhadap langkah ini datang dari berbagai pihak, termasuk Ketua DPRD Sulteng Abdul Arus Karim dan anggota DPR RI Sarifuddin Sudding, yang turut memberi dorongan terhadap penguatan sektor ekspor berbasis komoditas unggulan daerah.
Sementara Ketua KADIN Parigi Moutong, Faradiba Zaenong yang berperan aktif dalam proses ekspor tersebut, menyebut hal itu sebagai titik balik ekonomi daerah.
Bagi Faradiba Zaenong, momentum ini lebih dari sekadar pengiriman hasil panen. Ia melihatnya sebagai pintu masuk bagi petani dan pelaku usaha lokal untuk naik kelas, dari pasar domestik menuju rantai perdagangan global.
“Ini bukan sekadar kirim durian. Ini adalah pintu besar bagi petani dan pelaku usaha Sulteng untuk masuk ke pasar global. Kita sedang bangun masa depan ekonomi daerah dari kebun menuju dunia,”ujarnya.
Pelepasan ekspor ditandai secara simbolis dengan pengibaran bendera oleh gubernur—sebuah gestur sederhana yang memuat makna besar: dari kebun-kebun durian di Sulawesi Tengah, harapan itu kini berlayar jauh, menembus batas negara.
Dari Sigi, perjalanan itu dimulai. Dari Sulawesi Tengah, cita-cita itu digelorakan—bahwa komoditas lokal mampu berdiri sejajar di pasar dunia. AJI
