Sementara Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna menerangkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya berdampak di Sulawesi Tengah, tetapi juga dialami sejumlah provinsi tetangga sekitar Sulawesi Tengah.

Kelangkaan stok pangan di daerah tetangga akibat cuaca ekstrem ini mendorong peningkatan permintaan pasokan dari Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah produsen pangan terdekat mereka. Di sisi lain, periode libur panjang dan tradisi mudik diperkirakan akan ikut memicu lonjakan kebutuhan di sejumlah daerah.

Dengan arus keluar barang yang tinggi dari Sulawesi Tengah untuk memenuhi permintaan tadi, dipastikan akan menimbulkan kelangkaan stok di dalam Sulawesi Tengah yang kemudian diikuti kenaikan harga. Karena itu, ia menyarankan pentingnya langkah konkret dan terukur, antara lain melalui penajaman implementasi framework 4K (ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif).

Mengintensifkan sidak pasar dan pelaksanaan pasar murah, optimalisasi neraca pangan, penguatan rantai distribusi, serta perluasan kerja sama antar daerah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat khususnya di periode jelang idul fitri hingga pasca-idul fitri.

Ia optimis dengan strategi tersebut dapat mengembalikan inflasi Sulawesi Tengah ke ambang batas yang terkendali. “Harapan kami saat bulan Maret, inflasi (Sulawesi Tengah) lebih melandai,” ujarnya optimis. *WAN