Kedua, Cahaya Ramadhan dalam Sekolah. Sekolah adalah perpanjangan tangan keluarga dalam mendidik generasi. Ketika nilai-nilai amalia Ramadhan dihidupkan di sekolah, maka terbentuklah lingkungan yang sarat makna.
Jika suasana ramadhan dihidupkan di sekolah seperti kegiatan tadarus bersama, pesantren kilat, atau malam bina iman dan taqwa, kajian akhlak, hingga program sedekah menjadi sarana menanamkan nilai bukan hanya di kepala, tetapi di hati peserta didik.
Sekolah yang menghadirkan suasana amalia Ramadhan dengan penuh hikmah akan melahirkan murid yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional. Inilah pendidikan yang utuh—yang menyentuh akal dan jiwa sekaligus.
Ketiga, Sinergi Keluarga dan Sekolah. Cahaya Ramadhan akan semakin kuat ketika keluarga dan sekolah berjalan seiring. Ketika nilai yang diajarkan di sekolah diperkuat di rumah, dan kebiasaan baik di rumah didukung oleh lingkungan sekolah, maka terbentuklah karakter yang kokoh.
Ramadhan bukan hanya momentum tahunan, tetapi kesempatan emas untuk menyatukan visi pendidikan: membentuk generasi yang berilmu, beradab, dan bertaqwa. Jika cahaya itu berhasil kita jaga, maka selepas Ramadhan pun sinarnya tidak akan padam. Ia akan terus menerangi langkah anak-anak kita dalam kehidupan.
Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi cahaya yang menyinari keluarga kita, menguatkan sekolah kita, dan melahirkan generasi yang diridhai Allah.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. ***