Namun, pencegahan tidak dapat sepenuhnya menghilangkan risiko. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi komponen penting dalam menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran. Kesiapsiagaan mencakup kemampuan individu dan komunitas untuk merespons situasi darurat secara cepat dan tepat, termasuk pengetahuan tentang evakuasi, penggunaan alat pemadam sederhana, serta pertolongan pertama.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, kesiapsiagaan juga mencakup kesiapan sistem pelayanan kesehatan dalam menangani korban kebakaran. Fasilitas kesehatan perlu memiliki rencana kontinjensi yang jelas, termasuk prosedur evakuasi pasien dan perlindungan tenaga kesehatan.
Kesiapsiagaan yang baik dapat menurunkan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh kebakaran. Masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar akan lebih mampu melindungi diri dan orang lain, sehingga mengurangi risiko cedera dan kematian.
Selain itu, kesiapan sistem kesehatan akan mempercepat penanganan korban dan mencegah terjadinya komplikasi kesehatan lanjutan. Dengan demikian, investasi dalam kesiapsiagaan merupakan bentuk perlindungan kesehatan masyarakat yang bersifat jangka panjang.
Aspek selanjutnya adalah respons dan pemulihan, yang menjadi tahap krusial dalam pengelolaan dampak kebakaran. Respons yang cepat dan terkoordinasi sangat menentukan keselamatan korban dan efektivitas penanganan darurat.
Dalam fase ini, fokus utama adalah penyelamatan jiwa, penanganan luka, serta pencegahan dampak kesehatan lanjutan. Namun, dari perspektif kesehatan masyarakat, penanganan kebakaran tidak berhenti pada fase tanggap darurat.
Pemulihan pascakebakaran memiliki peran penting dalam mengembalikan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Banyak korban kebakaran mengalami trauma psikologis, stres berkepanjangan, dan gangguan fungsi sosial. Jika tidak ditangani dengan baik, dampak ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang.