Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan yang mendorong optimalisasi ibadah pada malam hari. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim meriwayatkan bahwa siapa yang menghidupkan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan pola istirahat yang baik, seperti tidur lebih awal agar mampu bangun sahur dan melaksanakan qiyamullail secara optimal. Asupan makanan bergizi dan minum air putih yang cukup juga penting untuk menjaga stamina selama berpuasa. Malam Ramadhan hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan menunaikan shalat sunah.

Ramadhan, Bulan Keluarga

Di tengah kesibukan dan dunia digital yang serba cepat, Ramadhan jadi momen terbaik buat Gen Z balik ke keluarga. Allah mengingatkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6).

Artinya, ibadah itu bukan cuma urusan pribadi, tapi juga urusan bersama di rumah. Ramadhan bisa dimaksimalkan dengan hal-hal sederhana tapi bermakna: sahur dan buka bersama, shalat berjamaah, baca Al-Qur’an bareng, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Kurangi aktivitas yang nggak penting, batasi scrolling, dan prioritaskan waktu di rumah. Puasa bukan cuma nahan lapar, tapi juga nahan emosi dan ego. Inilah waktu yang pas buat saling memaafkan, memperbaiki komunikasi, dan menguatkan bonding keluarga. Karena sejatinya, keluarga adalah tempat pulang paling tenang.

Yuk para Gen Z mari maksimalkan ibadah Ramadhan bukan hanya dari kuantitas, tetapi juga kualitas. Yang tak kalah penting, kita juga harus menanamkan makna kebahagiaan yang benar dalam menjalani kehidupan.

Kebahagiaan sejati sangat ditentukan oleh sudut pandang hidup. Kebahagiaan ala sekularisme atau kapitalistik zaman sekarang sering diukur dari kepuasan jasmani, materi, dan hiburan. Puasa pun dianggap membebani karena menahan lapar dan haus. Akhirnya, banyak yang semangat mengejar keuntungan materi di bulan Ramadhan jualan makanan, pakaian, dan kebutuhan lebaran sementara ibadah hanya dilakukan seadanya.

Islam mengajarkan sebaliknya. Kebahagiaan hakiki adalah meraih ridha Allah dengan menjadi hamba yang taat pada perintah dan menjauhi larangan-Nya. Bahagia saat Ramadhan adalah ketika kita menjadikan bulan suci ini sebagai momentum meningkatkan ibadah, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Pasca Ramadhan, semoga semangat ini tidak berhenti. Kita perlu terus berupaya taat kepada Allah dalam seluruh syariat-Nya, karena di sanalah letak kebahagiaan yang hakiki. Semoga predikat takwa benar-benar melekat dalam diri kita semua. Gen Z, mari hidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah yang berkualitas, serta manfaatkan era digital sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai Islam demi meraih takwa yang sejati. 

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Fussilat: 33). ***