Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah rawan bencana harus disertai dengan kajian geologi dan mitigasi yang matang. Jalan poros Palu–Parigi sebagai jalur strategis seharusnya dilengkapi dengan sistem perkuatan tebing, penanaman vegetasi penahan longsor, serta drainase yang memadai untuk mengurangi tekanan air dalam tanah.

Tanpa langkah tersebut, setiap musim hujan akan selalu menghadirkan kekhawatiran yang sama. Penanganan longsor selama ini cenderung bersifat reaktif. Ketika material menutup jalan, alat berat segera diterjunkan untuk membersihkan timbunan tanah dan batu.

Lalu lintas kembali normal, dan aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa hingga longsor berikutnya terjadi. Pola seperti ini menunjukkan bahwa kita masih terjebak dalam pendekatan jangka pendek, bukan upaya pencegahan yang berkelanjutan.

Langkah preventif sangat penting untuk mengurangi risiko longsor dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem pemantauan lereng, memasang rambu peringatan dini, serta melakukan penanaman vegetasi penahan longsor di kawasan rawan.

Drainase yang memadai dan perkuatan tebing akan mengurangi tekanan air dalam tanah, mencegah longsor, dan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan warga.

Masyarakat juga memiliki peran penting dalam pencegahan. Edukasi mengenai bahaya longsor, pelatihan evakuasi mandiri, serta pembatasan pembukaan lahan di lereng-lereng curam dapat mencegah bencana.

Persiapan kit darurat, akses air bersih, dan fasilitas pertolongan pertama sangat penting untuk mengurangi risiko penyakit akibat longsor, seperti luka, infeksi kulit, gangguan pernapasan, hingga stres psikologis. Langkah-langkah preventif ini secara langsung berkaitan dengan kesehatan masyarakat, karena tujuan utamanya adalah melindungi warga dari risiko cedera, penyakit, dan trauma mental.

Refleksi dari kasus longsor di jalan poros Palu–Parigi menegaskan pentingnya integrasi antara pembangunan dan pengurangan risiko bencana. Investasi dalam mitigasi memang membutuhkan biaya, tetapi kerugian akibat terputusnya akses jalan, kerusakan infrastruktur, dan potensi korban jiwa jauh lebih besar.

Selain itu, kesadaran kolektif masyarakat juga memegang peranan penting. Upaya menjaga kelestarian hutan dan tidak melakukan pembukaan lahan sembarangan di kawasan perbukitan merupakan bagian dari mitigasi jangka panjang. Edukasi mengenai bahaya longsor dan langkah evakuasi mandiri saat terjadi bencana juga perlu diperkuat, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar lereng rawan.

Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem semakin memperbesar risiko longsor di masa depan. Curah hujan tinggi dalam waktu singkat meningkatkan tekanan air dalam tanah dan mempercepat pergerakan massa tanah. Kondisi ini menuntut kesiapan yang lebih serius dari seluruh pemangku kepentingan. Mitigasi tidak lagi bisa dianggap sebagai pilihan, melainkan kebutuhan mendesak, terutama untuk menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Saat tanah tak lagi bersahabat, sesungguhnya alam sedang mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan keseimbangan lingkungan. Longsor di jalan poros Palu–Parigi adalah peringatan bahwa keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan. Jika refleksi ini mampu mendorong perubahan menuju perencanaan yang lebih tangguh dan berkelanjutan, maka kita tidak hanya membersihkan longsoran tanah, tetapi juga membangun masa depan yang lebih aman dan sehat bagi generasi mendatang.