Rukman dan Siti Suhra Sulaiman
Magister Kesehatan Masyarakat,
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu 2026
Tanah selama ini kita pahami sebagai pijakan yang kokoh, tempat membangun rumah, jalan, dan harapan. Namun, ketika hujan turun tanpa henti dan lereng-lereng kehilangan penyangganya, tanah dapat berubah menjadi ancaman yang mematikan.

Bencana longsor menjadi pengingat bahwa relasi manusia dengan alam tidak selalu harmonis. Ketika keseimbangan terganggu, tanah yang seharusnya menopang kehidupan justru runtuh dan membawa kerugian besar.
Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah yang memiliki topografi perbukitan dan pegunungan yang rawan longsor, terutama saat musim hujan. Salah satu contoh nyata adalah longsor yang kerap terjadi di jalur poros Palu–Parigi, akses utama yang menghubungkan Kota Palu dengan Kabupaten Parigi Moutong.
Setiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut, material tanah dan batu dari tebing di sepanjang jalan berjatuhan, menutup badan jalan dan menghambat arus transportasi.
Beberapa kejadian longsor di jalur ini bahkan menyebabkan kendaraan terjebak berjam-jam, aktivitas distribusi logistik terganggu, dan mobilitas masyarakat lumpuh total. Jalur Palu–Parigi bukan sekadar jalan biasa; ia merupakan nadi perekonomian dan konektivitas antarwilayah.
Ketika longsor terjadi dan akses terputus, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna jalan, tetapi juga oleh pedagang, petani, dan pelaku usaha yang bergantung pada kelancaran distribusi barang.
Longsor di jalur tersebut tidak semata-mata akibat curah hujan tinggi. Faktor kemiringan lereng yang curam, struktur tanah yang labil, serta berkurangnya vegetasi penahan air menjadi penyebab yang saling berkaitan. Pembukaan lahan di sekitar perbukitan, minimnya sistem drainase lereng, serta kurangnya perkuatan tebing memperbesar risiko runtuhan tanah. Hujan deras hanya menjadi pemicu terakhir dari rangkaian persoalan yang telah lama terakumulasi.