Allah Maha Tahu bagaimana cara terbaik memasukkan cahaya Al-Qur’an ke dalam diri hamba-Nya, dan puasa adalah sarana ilahiah untuk menyiapkan “wadah” itu. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan proses detoksifikasi jiwa yang sangat dalam; saat kita menahan diri dari yang halal, kita sedang melatih diri meninggalkan yang haram, dan saat kita mengurangi konsumsi dunia, kita sedang membuka ruang bagi Al-Qur’an masuk ke dalam hati.

Secara ilmiah pun, kondisi perut yang kosong saat berpuasa memicu munculnya hormon ghrelin dan serotonin; serotonin sebagai hormon kebahagiaan membentuk karakter sabar, empati, dan kemampuan mengendalikan diri—yang semuanya bermuara pada ketakwaan sebagaimana tujuan puasa dalam QS Al-Baqarah ayat 183.

Sementara itu, ghrelin yang meningkat saat lapar justru menguatkan kesadaran diri, refleksi batin, dan pencarian makna hidup, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa syukur sebagaimana pesan QS Al-Baqarah ayat 185. Dalam kondisi tubuh yang lebih hening dan jiwa yang lebih peka inilah, ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi benar-benar meresap dan dirasakan, dan di situlah healing itu mulai terjadi.

Namun, penyembuhan itu tidak berhenti pada membaca semata, melainkan pada kualitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Ramadhan memang sering dijadikan momentum untuk mengkhatamkan bacaan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita membaca (tilawah) dengan hati yang hadir, memahami maknanya (tafahhum) seolah Allah berbicara langsung kepada kita, lalu merenunginya (tadabbur) hingga ayat-ayat itu menjawab kegelisahan hidup kita, dan akhirnya mengamalkannya (tatbiq) dalam keseharian. Ketika proses ini terjadi, Al-Qur’an benar-benar menjadi jawaban atas luka dan kegelisahan manusia. Melalui Al-Qur’an, Allah hadir menguatkan saat kita merasa sendiri, meneguhkan saat kita merasa gagal, dan menenangkan saat kita menghadapi kehilangan. Maka healing Ramadhan yang sejati adalah ketika Al-Qur’an tidak hanya kita baca dengan lisan, tetapi kita hidupkan dalam hati dan perilaku, hingga ia menjadi cahaya yang menuntun setiap langkah kehidupan.

Tantangan: Mengalahkan Distraksi

Salah satu tantangan terbesar dalam menjalani healing di bulan Ramadhan adalah distraksi yang begitu kuat dari gadget, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan yang terus menarik perhatian kita. Tanpa disadari, kita bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar, tetapi merasa berat meluangkan beberapa menit saja untuk bersama Al-Qur’an. Kita pun sering terjebak dalam budaya ikut-ikutan atau FOMO (fear of missing out), seolah harus selalu terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain, padahal Allah telah mengingatkan dalam QS Al-An’am ayat 116 agar tidak mengikuti kebanyakan manusia tanpa dasar ilmu yang benar, karena hal itu justru dapat menjauhkan kita dari jalan-Nya. Di titik ini, kita perlu jujur bahwa bukan karena kita tidak punya waktu, tetapi karena kita belum menempatkan Al-Qur’an sebagai prioritas utama dalam hidup.

Karena itu, healing tidak akan terjadi tanpa kesadaran dan komitmen yang nyata. Ia bukan proses instan, melainkan perjalanan yang membutuhkan kesungguhan dan kedisiplinan. Mulailah dari langkah sederhana namun bermakna: meluangkan waktu khusus setiap hari untuk Al-Qur’an tanpa menunggu waktu luang, mengurangi konsumsi media sosial yang tidak perlu, serta menghadirkan hati saat membaca agar ayat-ayatnya benar-benar menyentuh jiwa. Tidak perlu banyak, yang penting konsisten, karena sedikit yang berkelanjutan jauh lebih berdampak daripada banyak tetapi terputus. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Sahih Bukhari, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,” sebuah pengingat bahwa kemuliaan hidup justru terletak pada kedekatan kita dengan Al-Qur’an, bukan pada seberapa sibuk kita dengan dunia.

Ramadhan: Momentum Kembali

Ramadhan adalah kesempatan yang tidak semua orang mendapatkannya, karena tidak setiap jiwa diberi umur untuk kembali bertemu dengan bulan mulia ini. Olehnya itu, ketika Ramadhan hadir, sejatinya adalah panggilan lembut dari Allah agar kita pulang, yakni pulang dari kelelahan menuju ketenangan, dari kegelisahan menuju keyakinan, dan dari luka menuju penyembuhan, dengan Al-Qur’an sebagai jalan kembalinya. Di dalamnya kita menemukan harapan, karena Allah Maha Pengampun, yang bukan hanya memaafkan tetapi juga menghapus dosa-dosa hamba-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam QS Ali ‘Imran ayat 193, sehingga tidak ada alasan untuk berputus asa. Justru Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memulai kembali dengan hati yang bersih dan jiwa yang lebih dekat kepada-Nya.

Penutup: Pulang Bersama Al-Qur’an

Pada akhirnya, setiap manusia sedang mencari tempat pulang. Dunia tak selalu ramah, dan hidup pun tak selalu mudah, tetapi Al-Qur’an selalu menyediakan ruang bagi kita untuk kembali. Ruang yang menenangkan, yang tidak menghakimi, dan yang selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin mendekat. Healing Ramadhan bukanlah tentang menjadi sempurna dalam waktu singkat, melainkan tentang memulai perjalanan pulang itu dengan langkah-langkah kecil, ayat demi ayat, hari demi hari, dengan hati yang perlahan disembuhkan. Mungkin kita tidak langsung berubah, mungkin luka-luka itu belum sepenuhnya hilang, tetapi saat kita bersama Al-Qur’an, kita tidak lagi merasa sendiri, dan itu sendiri sudah menjadi awal dari kesembuhan yang sejati.

Maka Ramadhan ini, jangan hanya kita isi dengan rutinitas ibadah yang bersifat lahiriah, tetapi hadirkan hati kita sepenuhnya bersama Al-Qur’an, membacanya dengan rindu, merenunginya dengan jiwa yang jujur, dan mengizinkan Al-Qur’an sebagai sahabat. Sebab bisa jadi selama ini kita merasa sedang membaca Al-Qur’an, padahal sesungguhnya Al-Qur’anlah yang sedang membaca, memahami, dan menyembuhkan kita—mengangkat luka yang tersembunyi, menenangkan hati yang gelisah, dan menuntun kita kembali kepada Allah dengan penuh cinta dan harapan. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb. ***